Rabu, 12 Februari 2014

Membincang Tan


Tak banyak yang tahu bahwasanya Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka yang dikenal sebagai Tan Malaka merupakan pahwalan nasional yang diangkat langsung oleh Bung Karno. Kesalahpahaman mengenai sosok pahlawan yang dilupakan ini hingga sekarang senantiasa terjadi, padahal bisa dibilang Tan Malaka adalah salah satu founding father Indonesia. Konon Soekarno menulis pledoi Indonesia Menggugat juga mendapat inspirasi dari pemikiran Tan.
Sayangnya jasa besar pahlawan ini tak mendapat tempat semestinya. Dalam rangka mengurai salah paham terhadap Tan Malaka inilah diskusi menghadirkan Harry A Poeze diselenggarakan. Peneliti pria kelahiran Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat, tahun 1896 mendedikasikan lebih dari separoh hidupnya untuk mengulik sosok yang misterius ini. Diharapkan diskusi ini dapat memberi pencerahan. Jika negara tak mampu menghargai pahlawannya, bagaimana mungkin ia menjaga kedaulatan bukan?

ACARA

Senin, 17 Februari 2014
19.30 - selesai
Grobak Art Kos
Jalan Stonen Nomor 29, Bendanngisor, Gajahmungkur, Semarang
CP Adin (085727088235) Yas (085740718970)
@grobakhysteria

Senin, 27 Januari 2014

friend fast 2



svka sama svka kolektif bikin acara: ((FRIENDFAST2))
1 Februari 2014 di Wisma Pertamina.
Start: 16.00. Htm: 3000,-

Rabu, 22 Januari 2014

SADDRASLAMET



Tribute untuk I Wayan Sadra dan Slamet Gundono
Sabtu (25/1) pkl 16.00-22.00 di Teater Beta kampus II, IAIN Walisongo Jalan Prof DR. Hamka KM 2 Ngaliyan, Semarang
acara berupa respons atas keduanya dalam bentuk seni pertunjukan, musik, visual, dan pemutaran film

Acara ini adalah sebentuk upaya untuk mengenang kedua seniman yang tinggal di Surakarta ini. Selain capaian artistiknya yang diakui dalam dunia internasional, keduanya juga dikenal sebagai seniman yang mempunyai kepedulian terhadap anak muda.

Sebagai bagian untuk mengingat kembali perjalanan Slamet dan Sadra ada dua film yang akan diputar selama berlangsungnya acara. Film pertama karya Jepri Ristiono berjudul 'Homage to I Wayan Sadra' yakni dokumentasi pemberangkatan Sadra ke peristirahatan terakhirnya. Film berdurasi 25.33 menit ini juga menggambarkan secara singkat siapa Sadra juga komentar beberapa teman dekatnya.
Film kedua karya Supriyanto Yayat berjudul 'Gundono, adalah sebuah kejadian'. film ini juga memotret siapa Slamet Gundono dan gagasan-gagasannya. Selama 22.02 ke depan kita akan diajak untuk menyelami kehidupan Slamet, beberapa karya, dan juga tentang mimpi-mimpinya.

profil yang terlibat

Teater Beta
salah satu kelompok teater kampus di IAIN Walisongo yang hingga sekarang aktif menjalani proses latihan dan kerap membuat pertunjukan http://kptbetasemarang.blogspot.com/

WPAP ( Wedha’s Pop Art Portrait) adalah gaya ilustrasi potret manusia (biasanya figur-figur terkenal) yang didominasi bidang-bidang datar marak warna depan, tengah dan belakang untuk menimbulkan dimensi, yang dibentuk dari garis-garis imajiner tegas dimana bentuk wajah, posisi elemen-elemen anggota wajah dan proporsinya tetap sama dengan potret aslinya dengan proses tracing kreatif yang tidak tunduk 100 persen pada apa yang sedang di trace. untuk WPAP Semarang bisa dilihat di http://wpapsemarang.blogspot.com/

Hysteria
Lembaga seni yang bergerak di bidang pemberdayaan anak muda berbasis komunitas dengan konsentrasi pada isu kota sila cek www.grobakhyseria.org

Cacing Terbang
adalah kolektif seni rupa yang lahir dalam atmosfer seni anak anak Universitas Negeri Semarang. http://arturrebowo.wordpress.com/cacing-terbang-art/

Sistem Busuk dari Dalam
kelompok musisi eksperimental dari Semarang. lihat http://lepenalit.wordpress.com/2013/04/24/sistem-busuk-dari-dalam-ngawur-yang-mendunia/

Aimee
http://www.youtube.com/watch?v=s0eryYWw4gI band ska dari Semarang silakan nikmati lagunya

Tikar
kelompok teater gabungan dari beberapa aktivis teater dari kampus-kampus yang ada di Semarang. kontak https://www.facebook.com/bintang.a.huda?ref=ts&fref=ts

Saung Swara
kelompok musik eksperimental dari Salatiga, beberapa waktu lalu sempat menjadi pengisi di acara bukan musik biasa, forum bulanan yang digagas Sadra di Taman Budaya Surakarta.

Teater Emka
http://lepenalit.wordpress.com/2012/09/01/mengintip-sejarah-teater-emka-fib-undip/

Yayat
Supriyatno Yayat. Lahir di Cirebon, 300473. Jurnalistik, Unpad 91. Kerja wartawan sejak 92 di Bandung. tahun 1999 pindah ke KBR68H di Komunitas Utan Kayu, Jkt. 2001 belajar video documentary di Belanda. 2006 keluar dari Utan Kayu dan mulai mnjadi freelance video journalist. video feature pertama tentang Tsunami Aceh utk ARD TV Jerman. Yayat juga memproduksi video untuk BBC, Discovery Channels dan banyak lagi yang lainnya. 2009 mendirikan CommonSense Media Memproduksi video dokumenter dan video komersial. Saat ini tinggal di Bandung. aktif memproduksi video dokumenter sendiri dan juga bersama tim CS Media.

Jepri
bisa dicek https://www.facebook.com/hapri.i.mpoigi

Sabtu, 30 November 2013

Kembali ke Gamelan*

Pheobe Neville, Philip Corner dan Ay-O
Pheobe Neville, Philip Corner dan Ay-O

(bagian ke dua puluhempat)

Seperti pernah akuceritakan sebelumnya, projectku adalah melacak persinggungan ide Fluxus denganpara seniman Indonesia. Jauh sebelumnya, Melati Suryodarmo mengatakan bahwa diadekat dengan eskponen penting Fluxus, Philip Corner. Sayangnya entah karena apahal itu luput dari perhatianku malah memilih berkutat dengan hal-hal lain. Di sampingitu karena kesibukan Mbak Mel, aku kurang mendapat info memadai dengan isu ini.Pencarian yang berputar-putar ini akhirnya kembali lagi ke Philip setelahMarintan Sirait memberi tahu bahwa tahun 1994 pernah mengadakan pekan Beuys. Daridata yang ada diketahui salah satu pematerinya adalah Dieter Mack.
Mack pernah tinggaldi Indonesia dan terlibat dengan seniman-seniman di Bandung, termasuk HarryRoesli, Herry Dim, dan Prof Tjetjep Rohendi. Sebenarnya aku sudah berkali-kaliberkorespondensi dengan Mack setelah jauh hari sebelumnya Prof Tjetjep yangrumahnya berjarak 50 meter dari basecamp Hysteria member email Mack. Kami berkorespondensiuntuk mencari waktu yang tepat untuk bertemu, mengingat rumahnya sangat jauhdari tempatku tinggal, Lubeck. Langsung saja aku kontak Mack untuk mencari tahubahan apa yang dipresentasikannya selama di Bandung dan bagaimana relasinyadengan teman-teman di sana. Sampai akhirnya Mack menyerah karena keterbatasaningatannya dan memberiku kontak Philip Corner!
Seniman kelahiran1933 itu sangat antusias membalas emailku. Aku tak menyangka orang sepentingdia memperhatikan anak bau kencur sepertiku. Dia juga menyarankanku menjalinhubungan dengan beberapa nama penting, termasuk Ben Patterson. Philip jugamemberitahu kalau dia sangat tertarik dengan apa yang aku lakukan dan memintaselalu dikabari mengenai perkembanganya. Sikap rendah hati dan gampang berbagiini terang saja membuatku sangat terbantu.

Philip Corner 
Gamelan EVERYDAY (outdoors)
Philip Corner Gamelan EVERYDAY (outdoors)

Philip Cornermemperoleh gelar Bachelor of Art pada tahun 1955 di CCNY, dengan guru yangsangat penting baginya Fritz Jahoda, dan mendapat gelar master empat tahunkemudian. Ia sebelumnya juga pernah menghabiskan waktu di Paris, belajar diConservatoire Nat'l de Musique, mengikuti kelas filosofi music OlivierMessiaen. Philip mengajar Modern Music di New School for Social Research daritahun 1967-1970, meneruskan kelas yang didirikan oleh John Cage. Ia menjadi professordi Livington College, New Jersey dari tahun 1972-1992. Sesudah itu ia pensiundini dan pindah ke Reggio Emilia, Italia.
Tanpa performancePhilip ‘Piano Activities’ yang berakhir pada perusakan piano itu aku pikirkehadiran pertama Fluxus di Wiesbaden akan menarik perhatian public.
Philip juga menepiskeraguanku soal orientalisme dan relasi timpang antara timur dan barat. Dalambeberapa referensi tentang dia, Philip terpangaruh oleh filsafat timur,termasuk Zen dan Budhisme. Pengalamannnya di Korea tahun 1960-1961 saatmengikuti wajib militer membuatnya terpikat denga music tradisi di sana. Iabahkan mempunyai nama Korea, Gwan Pok yang artinya air terjun perenungan. Lebihjauh lagi, Philip mempunyai kelompok gamelan bernama Son of Lion tahun 1976yang dibentuknya bersama Barbara Benary dan Daniel Goode.

Phil and Phoebe Neville memainkan sebuah gong
Phil and Phoebe Neville memainkan sebuah gong

Philip beberapa kalimengunjungi Indonesia dan berteman baik dengan para musisi kontempore. RahayuSupanggah, Sutanto Mendut, I Wayan Sadra, Slamet Abdul Syukur adalah beberapanama yang intensif menjalin relasi dengannya. Pada sebuah repertoar I WayanSadra ‘terus-terus’ ia ikut performance. Di Padepokan Lemah Putih, Surakarta iajuga pernah melakukan performance art. Betapa erat hubungan Philip dengan paraseniman di Indonesia. Sayangnya fakta ini aku ketahui belakangan karena sibukmemburu relasi Fluxus dengan teman-teman seni rupa. Padahal dengan seni music relasinyalebih kuat.
Fakta seputar Philipmembuatku lebih percaya diri untuk menyelesaikan project ini. Setelah berputar-putarkembali juga ke timur, ke gamelan. (Adin)

 *tulisan ini akan diposting secara berkala tentang apa-apa yang aku kerjakan selama menjalani residensi di Nassauischer Kuntverein Wiesbaden, Jerman
(image yang digunakan seluruhnya berasal dari internet)

Kota di Antara Hutan dan Tanaman yang Merambat

kunstlerhaus, tempat pemutaran film tentang Fluxus yang menggerakkanku ke kota ini
kunstlerhaus, tempat pemutaran film tentang Fluxus yang menggerakkanku ke kota ini


(bagian ke sepuluh)

Butuh waktu dua hari untuk menimbang-nimbang perjalan ke Stuttgart, kota yang jadi bagian Negara Baden-Wurttemberg, Jerman. Ini terkait dengan projectku untuk mempelajari Fluxus selama di Wiesbaden. Soal projectku nanti akan aku tulis dalam naskah terpisah. Niat untuk ke Stuttgart ini dipicu oleh email dari Amanda Rath, seorang dosen dan peneliti di Goethe Universitat Frankfurt am Main yang menginformasikan adanya pemutaran film tentang Fluxus yang dibuat berdasar penelitian Dorothee Richter (Zurich Universities of Applied Sciences and Arts). Penasaran akhirnya Selasa (15/10) aku beli tiket kereta juga. Menghemat biaya aku ambil tiket paling murah dengan resiko perjalanan lama dan berganti-ganti kereta. Ini juga jadi perjalanan pertama terjauhku di sini.

Heilbronn, kota yang berhadapan langsung dengan sungai
Heilbronn, kota yang berhadapan langsung dengan sungai

Sebelumnya aku sempat mencari informasi kalau-kalau ada mahasiswa Indonesia atau teman yang tinggal di Stuttgart, namun rupanya hingga hari H tak ada aku temukan kontak. Buat jaga-jaga saja kalau kemalaman. Tapi memang sudah aku niati kalau tak dapat tempat menginap aku akan berjaga semalaman di stasiun kereta bawah tanah di pusat kota, biasanya lebih hangat. Lagian Stuttgart termasuk kota yang aman, jadi tak ada alas an untuk khawatir. 
Tepat pukul 12.38 aku naik kereta berkode RB 15715 menuju Darmstadt. Butuh ganti kereta hingga empat kali untuk mencapai Stuttgart. Benar saja, jika naik kereta cepat bias ditempuh hanya 2 atau 3 jam, kali ini harus 4 jam. Namun ternyata perjalanan memakan waktu lebih lama. Jadwal dan jenis kereta yang kunaiki mempunyai sedikit perbedaan sehingga 45 menit aku terkatung-katung di sebuah kota yang entah lupa namanya. Dari sekian stasiun kota yang kusinggahi, Darmstadt, Heidelberg, hingga Heilbronn, yang terakhirlah yang paling keren. Kota ini persis menghadap sungai dan pemukimannya naik ke atas bukit. Hampir mirip dengan Rudesheim, tetapi tetap beda. Sempat tersirat sebelum balik ke Wiesbaden aku akan mampir dulu ke Heilbronn. Namun rupanya saat pulang kereta memiliki jalur lain, yakni lewat Karlsruhe dan Mainz. Heilbronn ini sungguh cantik, sayangnya aku hanya bias melihat dari balik kaca kereta.

Old Kastil, bekas tempat  pemeliharaan kuda pada tahun 950 dan sekarang difungsikan menjadi museum kota setelah renovasi berkali-kali
Old Kastil, bekas tempat pemeliharaan kuda pada tahun 950 dan sekarang difungsikan menjadi museum kota setelah renovasi berkali-kali

Di sini kalau beli tiker satu hari,tak tergantung dengan kereta mana mau berangkat. Misalnya aku beli tiket untuk hari ini, bebas mau naik kereta apa saja asal masih satu kelas. Mau berangkat jam berapapun tak masalah asal masih pada tanggal yang sama. Kalau mau murah bisa beli tiket pulang pergi dalam sehari. Untuk tipe kereta IC atau ICE sekali perjalanan dari Wiesbaden ke Stuttgart bisa lebih murah asal tergantung pada jam tertentu. Artinya sekali telat ya sudah tak akan bisa menggunakan tiket itu lagi. 
Aku sampai di Stuttgart hamper pukul 19.00, acara dimulai sejam lagi dan aku benar-benar buta terhadap kota itu. Hujan tipis-tipis. Aku Tanya orang-orang dan akhirnya sampai juga di Kunsterlhaus Stuttgart. Hingga acara rampung aku belum memikirkan mau tidur di mana. Sempat berkenalan dengan orang-orang di sana, termasuk Lilian Scholtes, ibu-ibu dari Stuttgart dan pernah terlibat dalam event 5 tahunan Documenta pada tahun 2007 lalu.
Sewaktu hendak mengaso di stasiun, Lili menelpon menawarkan tempat tidur di apartemennya, naluri keibuannya mengatakan aku butuh pertolongan. Tentu saja tak kusia-siakan kesempatan ini. Selama hampir semalaman kami ngobrol tentang macam-macam. Mulai dari soal seni hingga isu-isu social lainnya. Lili pula yang memberikanku arahan untuk pagi harinya menemukan hal menarik di kota ini. Seperti tiap perjalanan yang tak kusiapkan sungguh-sungguh, selalu ada penyesalan tiap pulang karena pasti ada tempat menarik yang luput untuk aku singgahi, yakni Old State Gallery dan New State Gallery. Di museum ini terdapat karya seniman terkenal, misalnya, Rembrandt, Monet, Renoir, Cézanne and Beuys, Max Beckmann, Dalí, Matisse, Miró, Picasso, Klee, Chagall dan Kandinsky. Aku melewatkannya..

Hegel Haus
Hegel Haus



Namun demikian di kota berpenduduk sekitar 600 ribu jiwa ini aku masih sempat menyambangi Hegel Haus, Stiftirsche, Schillerplatz, dan beberapa objek menarik lainnya. Kota ini cukup indah, terletak tak jauh dari Black Forest, di sela-sela kota masih ada kebun anggur. Kalau istilah orang Stuttgart terletak di antara hutan dan tanaman yang merambat, romantis bukan. Adapun Stiftkirsche adalah gereja dengan arsitektur campuran antara romawi, ghotic, dan arsitektur modern. Jejak gereja ini bisa dilacak hingga abad ke 12, berkali-kali mengalami renovasi dan terakhir rusak parah karena perang dunia kedua. Direstorasi lagi dan sekarang menjadi bagian tak terpisahkan dari Schillerplatz, Bangunan Fruchtkasten, Prinzenbau, Old Chancellery dan Old Castle. Bangunan-bangunan bersejarah ini berada dalam radius 100 meter kira-kira, letaknya saling berdekatan. Di Schillerplatz, tempat yang didedikasikan untuk penyair jerman Fridrich Schiller seminggu dua kali diadakan pasar untuk rakyat. Patung Schiller ini merupakan karya Bertel Thorvaldsen.

Schillerplatz, didedikasikan untuk penyair kenamaan Jerman, Friedrich Schiller
Schillerplatz, didedikasikan untuk penyair kenamaan Jerman, Friedrich Schiller
Tak jauh dari Scillerplatz, ada Hegel Haus. Rumahnya mungil dan berada di pojok perempatan jalan. Tak sulit mencapai Hegel Haus karena di sudut-sudut jalan terdapat papan pentunjuk yang mengarah tempat-tempat penting. Jika dibanding dengan Goethe Haus di Frankfurt, Hegel Haus lebih kecil. Di sinilah konon Hegel menghabiskan masa kecilnya.
Terakhir aku ke Württembergische Kunstverein Stuttgart, menyaksikan pameran yang sedang berlangsung. Masuk harus membayar 3 Euro dan aku di dalamnya berjam-jam. Tak sengaja aku melihat karya Kiri Dalena, seorang kawan lama dari Filipina. Pertama kali bertemu dengannya saat di Bandung 2009 lalu. Aku menjadi guide yang mengantar Kiri menjelajah kota. Puas menjelajahi kota, pukul 14.59 tanggal 16 Oktober aku kembali ke Wiesbaden, tak sabar menjelajah hal-hal lain selama di Eropa. (Adin)

*tulisan ini akan diposting secara berkala tentang apa-apa yang aku kerjakan selama menjalani residensi di Nassauischer Kuntverein Wiesbaden, Jerman

Stuttgart dari atas
Stuttgart dari atas



Beuys

(bagian ke dua puluh satu)

Di antara eksponen Fluxus,yang sering disebut-sebut dan mempunyai pengaruh besar adalah Joseph Beuys. Tokoh yang terkenal dengan konsep ‘Social Sculpture’ ini mempunyai sejarah yang cukup controversial. Josep Beuys lahir di Krefeld, anak seorang pedagang, Josef Jakob Beuys (1888–1958) dengan Johanna Maria Margarete Beuys (1889–1974). Beuys lahir pada 12 Mei 1921. Di tahun yang sama orang tuanya pindah ke Kleve, sebuah kota industri dekat dengan perbatasan negeri Belanda. Di sana Beuys mendapat pendidikan dasar di Katholische Volksschule lalu melanjutkan di Staatliches Gymnasium Cleve. Di sekolah ia mendapat pembelajaran piano dan cello, bakat menggambarnya juga sudah mulai kelihatan. Pada suatu kesempatan ia mengunjungi seorang pelukis pematung Flemish, Achilles Moortgat. Kesukaan lain yakni tentang sejarah Nordik, mitologi dan ilmu alam. Saat terjadi pembakaran buku di halaman sekolahnya pada Mei 1933, ia sempat menyelamatkan sebuah buku berjudul Systema Naturae anggitan Carl Linnaeus dari tumpukan api yang menyala. Tahun 1936 ia tercatat sebagai anggota Pemuda Hitler, sebuah organisasi anak muda di Jerman waktu itu. Pada usianya yang ke 15 ia juga ikut Perkumpulan Nurnberg pada September 1936.

masa muda Beuys
masa muda Beuys



Tahun 1941 ia menjadi relawan di angatan udara. Dia memulai kariernya sebagai operator pesawat radio dibawah asuhan Heinz Sielmann di Posen (sekarang Poznań), mereka berdua juga mengikuti kuliah di bagian Biolodi dan Zoologi, Universitas Posen. Pada saat bersamaan ia juga mulai memikirkan karirnya sebagai seniman. Setahun kemudian ia ditempatkan di Crimea dan menjadi anggota unit pesawat pengebom. Beuys pernah tertembak jatuh saat membawa pesawat di dekat Znamianka pada 16 Maret 1944. Menurut pengakuannya ia diselamatkan suku pengembara Tatar yang sempat membalut tulangnya yang patah dengan lemat hewan dan merawatnya hingga sembuh. Peristiwa ini berbeda dengan apa yang dituturkan saksi lain di dekat tempat itu. Saksi lain mengatakan pilotnya memang mati seketika sementara Beuys tak sadarkan diri. Setelah itu Beuys dibawa ke rumah sakit militer untuk menjalani perawatan.
Mempertimbangkan lukanya, setelah itu Beuys ditempatkan di front barat, Agustus 1944. Ia juga mendapat Wound Badge berkasta emas, sebuah penghargaan cukup  pretensius dalam karir militer di Jerman untuk seseorang yang mendapat luka lebih dari 5 kali. Setelah Jerman menyerah pada 8 Mei 1945, Beuys ditahan di Cuxhaven dan dibawa ke kamp interniran Inggris. Tanggal 5 Agustus ia dibebaskan dan kembali ke rumah orang tuanya. Pengalaman ini membuat sosok Beuys kontroversi.
Sekembalinya ke Kleve, Beuys bertemu dengan pematung Walter Brüx dan pelukis Hanns Lamers yang mendorongnya untuk mengambil karir sebagai seniman. Ia menjadi bagian dari Asosiasi Artis Kleve yang didirikan oleh Brüx dan Lamers. 1 April 1946, ia ikut program "Monumental Sculpture" di  Düsseldorf Academy of Fine Arts. Mulanya ia ikut kelas Joseph Enseling dengan focus pada tradisi. Setelah tiga semester ia ikut bergabung dalam kelas kecil Ewald Mataré pada 1947. Filsafat antroposofi yang dikembangkan oleh Rudolf Steiner menjadi alasan mendasar Beuys dalam membentuk sudut pandangnya. Pemikiran Anthrophosophy disebut juga sebagai teori mistis, percampuran religius filosofis yang dipinjam dari pemikiran neoplatonisme dan Pitagorian, mistisisme, Kabalisme dan filsafat alam Jerman.Teorinya berciri pendewaan terhadap kodrat manusia yang memiliki karsa atau kehendak. Bagi teori ini, kodrat yang ada pada manusia hanya bisa disingkap oleh manusia yang memiliki karsa tadi. Aliran pemikiran ini mendapat pengaruh kuat dari Ajaran Hindu.


Beuys bersama Andy Warhol
Beuys bersama Andy Warhol





Bersama beberapa artis termasuk Hann Tie, Beuys mendirikan sebuah grup bernama 'Donnerstag-Gesellschaft' (Thursday Group) pada 1947. Kelompok ini aktif membuat diskusi, pemaren, konser dan berbagai acara lain selama kurun waktu 1947 - 1950 di Puri Alfter. Beuys juga memilik ketartarikan terhadap Joyce, Galileo Galilei, Friedrich Schiller, Leonardo da Vinci dan lain-lain. Pemenang nobel, Gunter Grass disebut-sebut mendapat pengaruh Beuys yang menhidupkan atmosfer pemikiran antroposofi dalam kelas Mataré .
Beuys menyelesaikan studinya pada tahun 1953 dengan gelar master pada usia 32. Dia mendapat pemasukan dari mengerjakan kerajinan pada nisan dan pernik-pernik furniture. Tahun 1950an adalah masa-masa sulit Beuys karena soal kemiskinan dan trauma paska perang. Namun ia tetap berkarya dengan membuat gambar. Ada seribuan karya berupa gambar dan ia juga membuat patung. Dalam karya gambarnya Beuys mengekplorasi bahan-bahan tak biasa dan mengembangkan visi artistiknya. Ia mengeksplorasi metaphor-metafor yang menghubungkan antara fenomena alam dan system filsafat.
Gambar ini dipamerkan di Oxford, Edinburgh, Dublin dan Belfast pada tahun 1974. Gambar ini dibuat antara akhir tahun 1940 an hingga 1950an dengan seri yang dinamai The Secret Block for a Secret Person in Ireland (merujuk pada James Joyce. Pada tahun 1959 ia menikah dengan Eva Beuys Wurmbach dan dikarunia dua putar, Wenzel (lahir 1961) dan Jessyka (lahir 1964). Beuys menyita perhatian public setelah ia melakukan performance art di Technical College Aachen pada tahun 1964. Ini merupakan bagian dari perayaan 20 tahun usaha pembunuhan Adolf Hitler. Performance Beuys terhenti mendapat serangan dari sekelompok siswa. Wajah Beuys dipukuli, sebuah foto di media menggambarkan Beuys dengan hidung berdarah dan lengan terangkat.

I like America and Amerika likes me (perormance art, Joseph Beuys, 1974)
I like America and Amerika likes me (perormance art, Joseph Beuys, 1974)




Tahun 1961 ia menjadi guru besar bidang 'monumental sculpture'  di Kunstakademie Düsseldorf. Namun karena penentangannya dalam penghapusan berbagai macam syarat untuk masuk kelas Düsseldorf di akhir tahun 60an,Beuys diganjar pemecatan pada tahun 1972. Pemecatan Beuys ini menimbulkan gelombang protes di kalangan mahasiswa, kritikus, dan seniman. Namun demikian kehilangan posisi ini tak membuat karir Beuys mati. Ia mendapat kessempatan untuk mengajar di kuliah-kuliah umum dan aktif dalam perpolitikan Jerman.
Beuys terkenal dengan metode pengajarannya, dalam sebuah wawancara dengan Willoughby Sharp tahun 1969 dikatakannya bahwa mengajar adalah karya terbesarnya dalam dunia seni, sisanya adalah produk limbah, sebuah demonstrasi. Jika seseorang ingin mengekspreskan dirinya ia harus menunjukkan sesuatu yang Nampak, sesudah itu ia hanya akan menjadi dokumen sejarah. Object tak lagi penting. Beuys ingin menunjukkan sesuatu yang asli, pemikiran dibalik sesuatu tersebutt. Dalam hal ini Beuys memandang peranan dirinya sebagai seniman sebagai seorang guru, shaman yang mengarahkan masyarakat pada arah yang baru.

Some of the 7,000 Oaks planted between 1982 and 1987 for Documenta 7 (1982)
Some of the 7,000 Oaks planted between 1982 and 1987 for Documenta 7 (1982)
Di antara konsep menarik Beuys yakni ‘Social Sculpture’. Ide ini dikembangkan Beuys sejak tahun 1960 an. Pemikiran dia mengenai potensi seni dalam mengubah dunia terinspirasi oleh penulis jaman romantic macam Novalis dan Schiller. Beuys termotivasi kepercayaannya pada kekuatan kemanusian universal potensi seni dapat memberikan perubahan revolusioner. Ide ini dapat ditemukan pada ide social yang dikembangkan oleh Rudolf Steiner yang terkenal dengan teorinya tentang Social Threefolding. Konsep ini diterjemahkan Beuys dalam pokok pikirannya mengenai social sculpture. Menurut Beuys masyarakat secara keseluruhan adalah karya seni besar dan tiap manusia adalah seniman. Ia juga mengembangkan 3 disiplin yakni kebebasan, demokrasi, dan sosialisme, ketiganya saling berhubungan.
Statemennya:

“Only on condition of a radical widening of definitions will it be possible for art and activities related to art [to] provide evidence that art is now the only evolutionary-revolutionary power. Only art is capable of dismantling the repressive effects of a senile social system that continues to totter along the deathline: to dismantle in order to build ‘A SOCIAL ORGANISM AS A WORK OF ART’… EVERY HUMAN BEING IS AN ARTIST who – from his state of freedom – the position of freedom that he experiences at first-hand – learns to determine the other positions of the TOTAL ART WORK OF THE FUTURE SOCIAL ORDER.”

Joseph Beuys dalam aksinya „Heimholung“  Oktober 1973. Foto: Winfried Göllner
Joseph Beuys dalam aksinya „Heimholung“ Oktober 1973. Foto: Winfried Göllner

Tahun 1982 ia diundang dalam festival lima tahunan di Kassel, Documenta 7. Ia meletakkan batu basal itu sehingga kalau kita melihatnya dari atas akan terbentuk sebuah anak panah raksasa yang menunjuk pada sebatang pohon oak yang ia tanam. Ia meminta supaya tak ada yang memindahkan batuan itu sampai ada yang menggantinya dengan pohon oak. Hasilnya adalah ditanamnya 7000 batang pohon oak di bekas batu itu. Dalam project ini dia ingin menunjukkan social sculpture itu bersifat interdisipliner dan partisipatoris. Ia juga ingin menegaskan bahwa karya itu mempunyai dampak terhadap lingkungan dan perubahan social. Dia Art Foundation kemudian melanjutkan project ini dan memasangkan pohon yang sudah ditanam bersama batuan tersebut. 
Beuy sendiri menyebut project itu sebagai upaya untuk memprovokasi dan hanya permulaan. Ia berharap bisa menginspirasi project serupa di dunia sebagai kampanye terhadap kesadaran lingkungan dan perubaham social. Selain itu juga mampu menumbuhkan kesadaran terhadap lingkungan perkotaan dimana manusia sebenarnya tergantung pada ekosistem yang lebih besar. Yang terakhir project ini diniatkan sebagai proses yang terus berjalan yang mana masyarakat bisa terpantik dan mencipta social sculpture itu sendiri.
Karya Beuys tak bermaksud untuk menghibur penonton. Ini adalah pesan yang terbangung melalu tradisi, pengakuan secara keseluruhan berdasar konsep baru mengenai keindahan yang melebihi kepuasan yang instan.
Beberapa wawancara dengan seniman-seniman Indonesia, Beuys menempati posisi yang lebih terkenal jika dibandingkan dengan Macuinas. Meskipun oleh kritikus disebut fluxus digolongkan dalam periode terntentu kehidupan Macuinas, nyatanya di Indonesia, beberapa seniman lebih familiar dengan seniman Fluxus lain, misalnya Alan Kaprow, Beuys dan tentu saja Philip Corner. (Adin)
7000 pohon oak, saat ini di Kassel, Jerman
7000 pohon oak, saat ini di Kassel, Jerman
*tulisan ini akan diposting secara berkala tentang apa-apa yang aku kerjakan selama menjalani residensi di Nassauischer Kuntverein Wiesbaden, Jerman
(image yang digunakan seluruhnya berasal dari internet)