Senin, 07 Februari 2011

Zomb13, have fun dan RIP

oleh: Umam
“Zombie di pagi hari dengan nyawa setengah bagai kuli yang belum minum kopi; di atas kertas sebagai penonton dan di layar sebagai dekorasi”. Kata-kata tadi adalah coretan teman saya yang bernama Riyan Renjana Sakti atawa yang biasanya saya panggil dengan sebutan akrab, Pinky. Dari coretan Pinky tadi, semua proses ini berawal.

Pinky yang telah lama menjadi teman saya, karena kami satu angkatan di kampus yang sama walau berbeda jurusan, adalah orang yang unik. Pinky yang menurut saya mempunyai kapasitas otak yang lumayan cerdas sungguh saying tidak lulus kuliah. Tapi saya yakin, ketidaklulusannya adalah pilihan sadar hidupnya, bukan karena dia terlalu kebanyakan main atau sok sibuk menjadi aktivis kampus hingga melupakan kuliah.

Persinggungan saya dengan Pinky semakin erat dan intens ketika saya menjadi sutradara di salah satu produksi teater kampus saya. Kebetulan ia menjadi tim penggembira atau rewo-rewo dalam produksi itu. Ia mengaku mau disuruh apa saja asal diperbolehkan ikut dalam proses. Tentu saja saya senang namun hal ini sempat membuat bingung teman saya yang menjadi pimpinan produksi karena rombongan “tobong” kami sudah kebanyakan orang dengan anggaran yang minim. Dan “mau disuruh apa saja” pun dibuktikannya. Ia mau disuruh teman saya yang penata musik untuk memegang alat musik tertentu yang sulit untuk dimainkan, disuruh untuk menata set, atau sekedar saya suruh untuk menemani saya minum-minum.

Namun yang membuat saya lebih mengenal Pinky adalah ketika saya dan Pinky sepakat untuk menumpang hidup di salah satu rumah teman baik kami. Hal ini tentu saja wajar bagi anak perantauan seperti kami yang pagi makan sore puasa atau sebaliknya. Yang tidak wajar adalah kesedian teman baik kami untuk menampung kami di rumahnya hingga berbulan-bulan. Entah ada apa di benak teman saya waktu itu.

Nah, ketika di “penampungan” itulah kami kerap bertukar pikiran. Tentu yang dimaksud bertukar pikiran adalah saling melontarkan pendapat, argumentasi bahkan agitasi dalam kerangka diskusi sesuai dengan iklim intelektualitas mahasiswa yang sok-sokan idealis. Dari seringnya bertukar pikiran itulah saya sering nyolong ide untuk beberapa karya saya, baik karya pribadi berupa tulisan atau ide untuk kelompok pertunjukan saya.

Seiring berjalannya waktu, saya pun lulus kuliah dengan nilai yang cukup memuaskan walau dianggap molor menurut ukuran orangtua. Saya yang masih malas untuk menjilat pantat korporat memutuskan untuk tidak bekerja tetap seperti teman-teman saya yang lain. Pinky yang gagal mengantongi gelar akdemis dari kampusnya pun sekarang memutuskan untuk menjadi seorang supir pribadi. Sebuah pekerjaan yang cukup lumayan menurut saya. Dan menurut Pinky itu juga sesuai dengan cita-citanya yang dari dulu memang ingin menjadi supir truk walau nasib berkata agak lain dengan menasbihkannya menjadi supir pribadi. “Setidaknya kan sama-sama jadi supir to Pink!!!”, kata saya setengah menenangkan jiwanya yang sedang bergejolak.

Pada suatu malam yang dingin dan sepi, saya pulang ke rumah kontrakan saya setelah melakukan perjalanan dari luar kota. Ketika saya masuk kamar, ternyata sudah ada Pinky yang duduk diam sambil membaca Madame Bovary karya Gustave Flaubert. Di sebelahnya secangkir kopi masih mengeluarkan uap panas pertanda baru saja dibuat. Ketika dia melihat saya ia langsung bilang: “aku perlu ngomong sama kamu!”, dengan wajah yang sangat dramatis. Saya tiba-tiba menjadi sangat dheg-dhegan. Karena tidak biasanya Pinky bilang sesuatu dengan nada sesyahdu itu.

“Aku merasa telah menjadi zombie!”, katanya masih dengan muka dramatis. “Aku tak tahu apa yang telah aku lakukan setiap hari. Tidak ada rasanya sama sekali. Aku hidup, aku bernapas, tapi sudah menjadi robot. Tidak ada feel. Semua terlalu teratur. Terlalu mudah ditebak. Aku tersiksa. Tolong aku!!!”, berondongnya dengan kata-kata serupa peluru howitzer ditembakkan ke mukaku. Aku sedikit terkesiap dengan serbuan kata-katanya. Betul-betul tidak kusangka. Akhirnya aku pun membuka mulut. “Tapi itu kan resiko menjadi pekerja Pink. Kamu kan juga senang dapet duit sehingga bisa membeli barang-barang yang kamu inginkan”, kataku sambil melirik tas backpack di sebelahnya yang sepertinya masih baru dan baru pertama kali itu aku lihat. “Iya juga sih”, kata Pinky mengiyakan. “Tapi aku tidak bisa aktualisasi diri seperti kamu. Yang masih sempet bikin karya. Pentas sana pentas sini. Aku iri ama kamu!!!”, cecarnya lagi. “Aku juga iri ama kamu Pink. Kamu kalau kesini selalu bawa buku baru. Mahal lagi. Bacpackmu juga baru. Ya to?? Trus siapa yang pantas iri?”, balasku tak kalah sengit. Kami terdiam cukup lama. Kami sama-sama larut dalam pikiran masing-masing. “Hmmm, urip ki emang wang-sinawang Pink. Rumput tetangga lebih hijau”, kataku lagi sambil keluar kamar menuju kamar mandi untuk buang air kecil.

***

Kami hanya bertiga di rumah kontrakan itu. Kontrakan kami adalah sebuah rumah yang sudah agak berumur di bilangan Lamper, lebih tepatnya di Jalan Jeruk. Teman saya yang sering berkunjung ke kontrakan kami kalau ingin indehoy dan yang rumahnya dulu menjadi tempat penampungan saya dan Pinky, sering menjuluki rumah kontrakan kami dengan julukan ”kontrakan drakula”. Saya tidak tahu pasti kenapa ia menjuluki kontrakan kami dengan julukan tersebut.

Bagi saya pribadi, rumah kontrakan kami memang lumayan nyaman. Saya cukup “merumah” di kontrakan tersebut. Terbukti tiga tahun lebih saya bertempat tinggal di rumah itu. Selain kami ada teman saya yang seorang perupa cum musisi yang sekarang nyambi menjadi supervisor proyek rumah menengah keatas. Terus ada teman saya yang seorang animator penggemar film-film kartun yang berencana menikah tahun ini dengan pacarnya.

Aktivitas saya sendiri pun masih serabutan. Saya jual daki untuk sesuap nasi dengan cara mengecerkan keahlian saya dalam bidang seni pertunjukan. Mulai dari pantomime, MC hingga membuat banyak kelompok seni pertunjukan dalam rangka diversifikasi produk. Saya pribadi lebih suka menjuluki diri saya dengan sebutan “part time performer”. Lebih keren dan agak membumi, hahaha!!!

Karena aktivitas kami yang sama-sama tidak jauh dari ranah kebudayaan dan seringnya sharing dalam masalah tersebut, kami bertiga pun sepakat untuk menahbiskan rumah kontrakan kami menjadi sebuah ruang kebudayaan dengan nama Klinik dan Rumah Jeruk. Kami tidak begitu paham kenapa kami memilih nama tersebut. Nama itu tiba-tiba ada dan muncul seperti buah apel yang jatuh menimpa kepala Isaac Newton. Klinik dan Rumah Jeruk dibuat dengan semangat bersenang-senang. Merayakan pertemanan dan masa muda. Sedikit naif memang. Namun itulah yang kami anggap menarik dan pas bagi kami. Have fun go mad lah!!! :D

Nah, orang sudah ada, tempat sudah ada, ruang sudah diikrarkan, lalu apa yang harus kami perbuat? Yap! Sebuah art project. Kami pun sibuk merencanakan proyek-proyek seni yang kira-kira harus kami lakukan setahun ke depan. Ketika merancang proyek-proyek tersebut, teringatlah saya dengan Pinky dan keluh kesahnya. Curhatannya tentang zombie begitu membekas di benak saya. Maka jadilah proyek pertama kami berawal dari curhatannya. Saya pun segera menghubungi Pinky untuk mau menulis tentang pengalaman “zombie”-nya. Semua hal tentang rutinitas pekerjaannya hingga segala hal yang dilihatnya dalam kehidupannya, mulai dari televisi, koran, majalah hingga jejaring sosial.

Dan saya pun yang bertugas untuk menata pertunjukan. Saya akhirnya memilih pemain untuk terlibat dalam proyek ini. Pemain yang saya pilih adalah adik kelas saya, teman teater kampus saya dulu sekaligus ibu rumah tangga dengan satu anak yang sangat tangguh. Saya memilihnya karena juga berdasarkan pertemanan dan pertimbangan-pertimbangan lain, seperti saya sudah beberapa kali berproses kreatif dengannya, kenal akrab dengan dia dan suaminya, dan pernah berkunjung ke rumahnya, Sehingga saya harapkan nanti lebih mudah bekerja dalam proyek perdana ini.

Untuk urusan artistik saya serahkan kepada teman saya yang perupa. Dia bertanggung jawab dalam hal artistik mulai dari panggung, kostum hingga musik. Maka jalanlah proses. Proses yang lumayan aneh menurut saya. Biasanya sebuah proses pertunjukan dimulai dari naskah yang jadi terus dikembangkan di panggung latihan. Sedangkan kita hanya punya coretan cum curhatan seorang manusia urban yang sedang meratapi nasib untuk dijadikan pertunjukan. Maka dibaliklah metode latihan. Bulan pertama latihan standar untuk membentuk tubuh yang lama tidak berproses sehingga kendur dan tidak sedap dipandang. Tahapan selanjutnya adalah merespon langsung artistik yang dibuat oleh teman saya terus dijadikan cerita atau fragmen. Cukup aneh kalau tidak mau dikatakan ngoyoworo!!! :D

Proses yang seperti ini tetap kami landasi dengan semangat bersenang-senang. Kami tidak mau tersiksa dengan latihan yang berat walau kami lumayan disiplin saat latihan. Komitmen awal adalah proses tanpa mengganggu aktivitas pribadi masing-masing. Maka jadinya proses kami penuh dengan negosiasi dengan jadwal pacaran, desain panggung yang belum sempurna, tagihan listrik dan PAM yang belum terbayar, mengurusi anak yang sedang sakit, KKN di luar kota hingga suplai tulisan dari Pinky yang beberapa kali ngadat.

***

Namanya Adin. Saya mengenalnya sudah enam tahun lebih. Dia adalah adik kelas saya satu jurusan di kampus. Sejak awal perkenalan kami, saya sudah mengira kalau ia adalah manusia yang unik. Unik di sini lebih condong ke arah positif sih. Dari awal ia memang sudah menaruh minat besar dalam dunia seni khususnya sastra.

Adin pun masuk menjadi anggota teater kampus seperti saya. Jujur sih, kalau dalam hal akting dia kurang berbakat. Ia agak canggung dan kaku di depan penonton sehingga pernah menjadi bahan tertawaan di antara kami. Namun, lambat laun saya tahu kelebihannya. Dia ternyata getol menulis. Itu saya tahu ketika kami didhapuk menjadi tim naskah yang bertugas untuk menyusun naskah yang akan dipentaskan oleh teater kami. Naskah itu pun jadi walau urung dipentaskan karena ada satu dan lain hal. Walaupun begitu, saya tahu, Adin lumayan berbakat menulis. J Adin tak lama aktif di teater kampus kami. Mungkin disebabkan oleh kejenuhannya atau memang karakternya yang tidak bisa terikat pada suatu hal. Saya kurang begitu tahu.

Namun Adin tidak diam saja. Rupanya dia aktif dalam suatu komunitas yang bernama Komunitas Hysteria. Ia cukup militan di komunitas ini. Hysteria yang awalnya adalah komunitas sastra, ia buat terbuka pada genre seni lain. Pendek kata Hysteria menjadi hebat ketika dipegang Adin (saya rupanya tak perlu menceritakan kiprah Adin selama menangani Hysteria karena pasti banyak yang lebih tahu daripada saya) :D

Dan tiba-tiba isu itu berhembus. Saya yang sedang asyik melihat Facebook tanpa sengaja membaca status Adin yang menyatakan kalau Hysteria akan bubar dalam waktu dekat. Jujur saya langsung ngakak bareng-bareng teman satu kontrakan. Tak ada rasa sedih di hati saya. Rasa sedih seperti ketika ditinggal pergi seorang teman. Yang ada hanyalah rasa konyol ketika membaca status tersebut. Ketika kemudian saya bertemu empat mata dengan Adin dan saya bertanya kenapa Hysteria mau bubar, Adin cuma menjawab: capek Mam!!! Dan saya cuma tertegun.

Lalu saya pun langsung melontarkan usul kepada Adin. “Hysteria bubar diacarakke wae Din. Dibikin pesta. Sekaligus sebagai pentas perdana proyeknya Klinik dan Rumah Jeruk!!!”, kata saya. Dan Adin pun langsung mengangguk setuju sambil tersenyum. Maka insya allah di bulan Maret nanti Klinik dan Rumah Jeruk akan mangayubagyo pembubaran Hysteria. Yap! Ada ironi di sini. Yang satu bubar yang satu muncul. Namun, bukankah itu wajar dalam kehidupan yang fana ini. Rest in Peace Hysteria. Istirahatlah dalam damai. Namun dalam hati kecil saya, terbersit suatu keinginan kalau Hysteria tidak boleh istirahat dalam damai. Ia harus selalu menggeliat walau sudah tidak ada lagi. Rebel in Peace Din??? Setujukah kau???

Umam, part time performer.
Penyuka kopi dan buku. Kini tinggal di Klinik dan Rumah Jeruk

Tidak ada komentar:

Posting Komentar