Sabtu, 30 November 2013

Peluang dari Rave Fondation


kantor IFA di Stuttgart
(bagian ke enam belas)

Bagaimana ceritanyabisa ke Jerman? Pertanyaan ini sering ditanyakan teman-teman saat masih diSemarang. Kalau mau menjawab prosesnya ya sejak tahun 2007. Kalau singkatnya yakarena dapat informasi lalu rajin kulik internet. Dibilang mudah ya mudah,dibilang sulit ya sulit. Kilas balik tahun 2007, tahun-tahun ini adalah tahunpaling aku pengen membubarkan Hysteria, karena alasan-alasan klasik di semuakomunitas. Saat satu orang merasa paling keras kepala, yang lain setengah hati,kesibukan kuliah, pekerjaan, ketidakpastian masa depan dan lain-lain. Persoalan-persoalanstandar yang hinggap di kebanyakan teman-teman yang aktif berkomunitas atauberorganisasi.

Pada tahun yang samapula, aku mulai rajin berkenalan dengan orang-orang di luar Semarang. Biasanyabermodal terbitan Hysteria, rasa percaya diri, dan kadang-kadang rekomendasi.Namun lebih seringnya karena nekat. Tahun-tahun penuh ketakjuban pada kota-kotalain di luar Semarang. Melihat banyak contoh bahwa di kota-kota lain kelompok semacamkami ini bisa bertahan kenapa di Semarang tidak?

Embrio kesadaranuntuk terus belajar dan terpacu bermula dari situ. Pergaulan itu membuatkumengenal apa yang namanya residensi, biasanya peluang ini untuk para seniman,pekerja seni, atau semacam itu. Sebuah peluang untuk mengembangkan diri dikota, atau negara orang lain. Aku lalu mendaftar di Yayasan Kelola yang saatitu memberikan kesempatan magang nusantara. Ditolak.

Setahun berikutnyaaku melamar untuk magang di Indonesian Visual Art Archieve (IVAA) Yogyakarta. Sedikitaneh karena latar belakang pendidikanku adalah sastra Indonesia tapi magangnyadi lembaga visual. Di sana aku makin rajin bertandang dari satu kelompok kekelompok yang lain. Membangun pertemanan di antara mereka. Tak mudah padaawalnya karena rasa-rasanya seperti mahluk asing yang masuk ke dalam habitatyang sama sekali baru. Dibiarkan saat menyambangi kelompok sudah biasa, apalagidiremehkan, sering. Namun dasar keras kepala, aku tak begitu mempedulikanresepsi orang. Yang ada adalah tabrak terus dan memaksa mereka tak bisa menolakkehadiranku. Diterimakah pada akhirnya? Ah entahlah, yang pasti aku berusahasebaik mungkin menjalin pertemanan, diterima atau tidak diterima itu urusanbelakangan.

Tahun berikutnya takpatah arang aku mencoba lagi mendaftar Yayasan Kelola dan akhirnya di tahun2009 aku menjalani magang nusantara di Common Room, Bandung. Sejak itu akumakin yakin, peluang ada, namun harus rajin dan gigih mencarinya, pun peluangke luar negeri. Pengalaman di Yogyakarta menjadi manajer biennale Jogja ke 11tahun 2011 memberi pengalaman yang berharga bagiku. Tak semulus yang diharapkanmemang, tapi begitulah, orang-orang selalu mencari jalannya sendiri untukbelajar. Pun aku. Kesempatan yang diberikan Mbak Neni, direktur Biennale Jogja11 aku manfaatkan sebaik mungkin untuk belajar bagaimana mengelola sebuahpameran dan berhubungan dengan para professional.


Nassauischer Kunstverein Wiesbaden, tempat residensiku


Berbekal pengalamanmengelola event, kelompok, jaringan dan tentu saja keberuntungan aku mulaimengulik peluang untuk residensi ke Eropa. Rave Foundation adalah salah satuyang aku tuju, dengan bantuan Anastasia Dwi Rahmi (Ami) yang rajin mendorongkudan membantu dalam banyak hal akhirnya aku lolos. Pengumuman itu sampai padaku 12Maret 2013. Beasiswa ini memang ditujukan untuk kurator, aktivis permuseuman,dan manajer budaya di negara dunia ketiga. Sebelumnya Ami juga mendapatbeasiswa serupa untuk studi permuseuman di Leipzig dan Leiden.

Sebelum melamarbeasiswa, pendaftar harus memastikan dulu diterima di sebuah lembaga nonkomersial yang ada di Jerman. Nama Nassauischer Kunstverein Wiesbaden (NKV Wiesbaden)aku dapatkan dari seorang kenalan yang memberikanku kontak mereka. Sebenarnya takhanya Rave Foundation saja yang memberi beasiswa, kalau rajin mencari tahubegitu banyak peluang di luar sana.

Kabar ini aku terimasekitar pukul 17.00 waktu masih menulis berita untuk Warta Jateng (sekarangTribun Jateng, waktu itu aku masih bekerja di grup Gramedia). Tak kusia-siakankesempatan itu akhirnya aku memantapkan diri untuk berangkat ke Jerman. Tak adates tertulis atau wawancara, seleksinya berdasar portofolio, contoh tulisan,dan beberapa syarat lain yang jelas tertulis di website mereka. Bicara soal NKVWiesbaden, tak ada orang yang paling membantuku selain Elke Gruhn. (direktur artisticsekaligus ketua NKV Wiesbaden). Berbekal surat pernyataan diterima dai Elkeakhirnya tiket ini aku dapat.

NKV Wiesbaden sendirimenarik bagiku karena mereka punya program tentang Fluxus. Belakangan akuketahui bahwa Wiesbaden adalah kota asal gerakan Fluxus. Seniman-senimankenamaan seperti Macuinas, Nam Jun Paik, Yoko Ono, Josep Beuys, Dick Higgins,Jonas Mekas, Ben Patterson dan banyak lagi yang lain berada dalam lingkaranini. Fluxus pula yang menjadi garapan temaku selama menjalani residensi disini. Mulanya tak mudah untuk beradaptasi dengan pola kerja dan banyak hal disini, tapi seperti yang aku katakan sejak awal, aku siap menerima banyakkonsekuensi atas banyaknya kekurangan yang aku miliki. Penguasaan bahasa, systemkerja, menghadapi orang, dan banyak hal yang lain.

Pernah aku singgungsebelumnya, NKV adalah bagian dari jaringan besar kunstverein yang tersebar diseluruh Jerman, NKV Wiesbaden sendiri sudah ada sejak lama. Tahun 1847 merekadidirikan oleh para pecinta seni di sini. Beratus tahun stabil memang keren. Gedungyang aku tempati sekarang berada di Wilhelmstrase nomor 15, Wiesbaden. Ada tigalantai yang digunakan untuk kegiatan pameran, sementara lantai bawah untukkantor dan kegiatan administrasi lainnya. Masih ada satu ruang lagi di bawahtanah untuk gudang dan mesin penghangat ruangan. Mengenai NKV Wiesbaden nantiakan aku tulis dalam teks terpisah, juga tentang project yang aku kerjakan diJerman, selain jalan-jalan tentu saja. (Adin)


*tulisan ini akan diposting secara berkala tentang apa-apa yang aku kerjakan selama menjalani residensi di Nassauischer Kuntverein Wiesbaden, Jerman

Rabu, 16 Oktober 2013

Sepatu Hysteria



#SewinduPlusSatuHYSTERIA

18-20 Oktober 2013
Jadwal Kegiatan:
WORKSHOP
18 Oktober 2013
09.00 wib  | Mengenalkanmu Pada Video
Pembicara | Rizal Cahyarama - Doping Channel
12.30 wib  | Menjadi Pengguna Sosial Media yang Lebih Sosial
Pembicara | Asmari - Dot Semarang

19 Oktober 2013
12.00 wib  | Bukan Gigs Tetangga Sebelah
Pembicara | Riska Farasonalia - Girls Strike & Yohanes Andrianto - Koentji Kota
CREATIVE SHARING
19 Oktober 2013,
14.30 wib   | Creatif Portofolio for Creative People
Pembicara | Benny Fajarai - kreavi.com
18-20 Oktober 2013
@ Grobak A(r)t Kos Jl. Stonen 29,
Bendan Ngisor Semarang
MALAM PERAYAAN20 Oktober 2013, 19.00 wib
Music Performances :
Psychustic
Genjrang Genjreng
Latree Manohara
Smashing Pumpshit
Fredian Bintar
Talent Show
Syukuran
and other “GREAT” things
More info, follow:
@grobakhysteria Grobak Art Kos Jl. Stonen 29,
Bendan Ngisor Semarang


Jumat, 11 Oktober 2013

festival lasem



Festival Lasem merupakan sebuah kegiatan Seni dan Budaya yang diadakan oleh masyarakat Lasem. Kegiatan ini menjadi sebuah respon masyarakat yang bertujuan demi menyemarakkan dan turut serta nyengkuyung atau meramaikan tradisi tahunan masyarakat muslim yang ada di daerah Lasem yang telah berlangsung selama berabad-abad yaitu peringatan Penjamasan Bende Becak Sunan Bonang, peringatan Haul Mbah Srimpet / Pangeran Tejakusuma I (Adipati Lasem sekaligus pendiri Masjid Jami’ Lasem) dan Haul Mbah Sambu (Tokoh Penyebar Islam awal di Lasem). Melalui Basic Kesejarahan, Kesenian (tradisi dan modern) dan Budaya juga mengangkat nilai-nilai Pluralitas masyarakat Lasem yang merupakan warisan nilai Para Pendahulu Lasem menjadi pondasi awal kegiatan Festival Lasem ini.

Selasa, 08 Oktober 2013

Sepatu Hysteria


#SewinduPlusSatuHYSTERIA

Volunteer Recruitment

Hysteria membuka kesempatan bagi anak muda untuk berpartisipasi sebagai volunteer dalam peringatan ulang tahun Hysteria ke-9* pada akhir Oktober 2013. Acara yang diadakan antara lain workshop video, workshop social media,film screening, talent show, music accoustic dan lainnya. Bagi yang berminat, silahkan mengisi formulir di :

http://t.co/2n7tx3GvWu

atau datang langsung ke Hysteria : 
Jl. Stonen 29 Bendan Ngisor, Semarang

Pendaftaran ditutup pada 14 Oktober 2013

Untuk info lebih jauh di :
t : @grobakhysteria | f : Kolektif Hysteria
w : grobakhysteria.org | b : adinhysteria.blogspot.com


* Hysteria merupakan lembaga seni yang berkonsentrasi dalam program-program pengembangan anak muda berbasis komunitas. Didirikan sejak tahun 2004, Hysteria telah  menyelenggarakan berbagai acara dan mempunyai jaringan tidak hanya di lingkup lokal namun juga nasional dan internasional. Hysteria selain membuat program peningkatan kapasitas SDM komunitas juga sering menyelenggarakan festival seni. 

Beberapa festival yang pernah diadakan antara lain: ‘Mengembalikan Seni ke Trotoarnya’ (2007) yang hasilnya dipresentasikan di galeri Bu Atie, ‘Festival Kesenian Semarang 2008: konsoemsi ataoe Mati!’ (2008) ‘Stonen Mini Fest: Jalur Alternatif’ (2009), Kotak Listrik fest menggandeng musisi dari Belgia, dan Singapura (2010), Festival Temu Penyair Muda yang mengundang teman-teman penyair muda se-Indonesia (2011) dan Sewindu Hysteria : Ngumpulke 28 Balung Pisah (2012). Event terakhir yang diadakan adalah "Serikat Gigs Remaja Terpadu " aka #SGRT (2013), sebuah konser musik yang dimeriahkan oleh band-band Semarang dan Surabaya.


screening bareng LOL Udinus


Sabtu, 05 Oktober 2013

Senin, 30 September 2013

Iman pada Kota

Adin

Beberapa bulan belakangan ini dalam twitter selalu aku twit kalimat ini ‘Seni untuk Kota Lestari’. Kalimat ini bukan kalimat latah dan asal yang kemudian aku distribusikan secara massif. Kalimat ini adalah sebentuk penegasan sikap berkesenian dalam merespons isu-isu terkini. Sebelum ‘menemukan’kalimat singkat itu, sering aku ngobrol sama Tri Aryanto, Noviaji, dan beberapa kawan yang lain. Sebenarnya kami itu berkesenian untuk apa sih? Capek-capek merawat ‘kegilaan’ ini namun tak tahu persis apa yang diperjuangkan. Meski sebenarnya tak disoreintasi-disorientasi amat. Setidaknya kalau menurut program yang dijalankan di Hysteria dan ketertarikan personalku, yang kulakukan mempunyai kecenderungan pada kota dan seni-seni urban. Namun kembali ke pertanyaan awal, untuk apa sih ini semua?
Dalam guyonan-guyonan minor, kami sering meledek diri sendiri dan Semarang, bahwa jikapun kota ini dihapus dalam peta,tak akan ada pengaruhnya dalam gegap gempita dunia seni di Indonesia. Sebagaimana diketahui, dalam politik representasi, yang dianggap Indonesia tuh hanya beberapa kota saja. Mereka secara sadar ataupun tak sadar merepresentasikan ‘yang Indonesia’, sementara kami yang di Semarang ini adalah konsumen isu dan wacana yang hampir selalu dari luar.






Jadi secara sinis aku kadang nganggap, Semarang ini kota cluster. Jagoan kandang, dan sering tak bersangkut paut dengan wacana besar bernama Indonesia, setidaknya dalam konteks dunia seni. Sebagai kota cluster ngapain juga sibuk dengan wacana kota lain, bahkan Indonesia, bukankah di kota ini sering timbul masalah-masalah yang harus direspons. Saatnya merespons isu kota sendiri dan tak berurusan dengan kota lain sebagaimana kota lain sebenarnya tak pernah berurusan dengan Semarang secara egaliter.
Makanya aku kadang ketawa masih ada gerakan-gerakan atas nama Indonesia di daerah-daerah yang itu-itu juga. Wilayah-wilayah yang sering menasbihkan diri sebagai pusat. Menggelikan.
Yah, itu tadi pikiran-pikiran sinis yang sering terlontar bersama teman-teman, ada positifnya juga yakni keengganan teman-teman untuk diposisikan diri sebagai konsumen wacana dari kota lain dan menjadi follower terus menerus.





‘Seni untuk Kota Lestari’ aku temukan setelah berkenalan dengan Marco Kusumawijaya. Memang idiomnya Marco namun tak sepenuhnya apa yang kami lakukan ini berdasar ide itu , aku dan beberapa teman merasa menemukan bahasa ungkap paling sederhana dari praksis yang kami lakukan bertahun-tahun. Dalam beberapa perbincanganku dengan Marco selalu ia tekankan bahwa kota-kota di Indonesia ini dibangun tanpa pengetahuan yang cukup. Tanpa pengetahuan yang cukup lalu kota dibangun secara asal, elitis dan tak pertisipatoris. Idealnya sebuah kota dibangun berdasar kebutuhan, harapan, dan pengetahuan warganya sehingga kota tak tumbuh secara ahistoris. Pembangunan non partisipatoris ini juga membuat warga enggan untuk ‘melibatkan’ diri dalam pembangunan. Kaitannya dengan isu ini, lalu di mana letak kesenian? Apakah ia hanya berdiam diri dan membangun menara gading sebagai milik kaum tertentu?
Tidak. Itu pilihanku dan teman-teman, semua bisa berkontribusi untuk menuju kota yang lebih baik, kota yang lestari, kota yang dibangun berdasar pendekatan jangka panjang dan sehat. Seringkali aku prihatin juga melihat praktik berkesenian teman-teman yang masih saja berjarak pada kotanya sendiri. Teriak melawan ketidakadilan, neolib dan isu-isu jauh lainnya tapi buta pada persoalan-persoalan di kotanya sendiri. Mereka tumbuh di awang-awang dan tak relevan juga kontekstual. Bagiku dan teman-teman, seni bisa kok memainkan peranan seperti halnya arsitektur, planologi, dan semua disiplin ilmu untuk berkontribusi pada perkembangan kota yang lebih baik. Dengan demikian kami juga menemukan iman dan alasan, untuk apa capek-capek bertahan.




Jauh dari funding, dari gegap gempita persoalan seni Indonesia, dan jauh dari sejahtera,ngapain bertahan? Banyak aku saksikan teman-teman lalu ‘menyerah’ dan dengan berbagai dalih menyatakan berhenti atau mengalihkan minatnya. Tak apa-apa sih, dan tak salah juga, tapi kalau hampir mayoritas begitu, aku pikir kok Semarang hingga 20 tahun ke depan cumak jadi penonton. Jangan lupa kota ini kekurangan orang-orang keras kepala dan sedikit gila. Apapun motifnya. Dan banyak kekurangan yang lain yang perlu dipetakan satu-satu lalu dicari solusinya. Saat ini persolan besar teman-teman seangkatanku adalah bertahan. Untuk kemudian bergerak lagi dan mencari strategi tepat. Dan tentu saja mereka butuh iman.
Seni untuk Kota Lestari, senantiasa kami gaungkan untuk mencari orang-orang atau komunitas yang seiman untuk bertahan,berstrategi, dan lantas merespons kota. Terserah dunia luar mau melihatnya sebagai apa. Kami memilih untuk kembali pada kota. Jangan lupa setelah otonomi daerah korupsi, kolusi, nepotisme, dan persoalan-persoalan lain semakin terdesentralisasi. Lalu dimana posisi seni? Tidak selamanya untuk advokasi sih, tapi langkah untuk kembali ke kota harus didorong secara terus-menerus supaya keberadaan kami tetap kontekstual dan relevan.
Aku kadang juga dikejutkan pernyataan teman-teman yang sering ingin merespons isu dari luar, tapi pada kotanya sendiri tak paham. Ah.. kasihan sekali, menyerap terlalu banyak tapi gagal membuatnya kontekstual dengan kotanya sendiri.




Pernyataan ini sempat kuuraikan saat diminta presentasi gagasan di Sanutoke, Jalan Tusam Timur Nomor 16, Banyumanik Semarang, Minggu, 12 Mei. Mas Eko Tunas secara khusus meminta saya untuk menguraikan gagasan tentang ‘Mau ke mana Arah Kesenian Semarang’. Judul yang cukup berat juga apalagi seolah-olah aku diposisikan sebagai representasi kota, alamak.
Dan kujawab, kami dan lingkaran jaringan kecil ini berlatih dan terus berlatih untuk mengorganisir diri dan mempunyai visi pada kota. Jangan lupa, Indonesia ada karena dibayangkan beberapa orang saja, Majalah Pujangga Baru yang diagung-agungkan dalam dunia sastra dan dihapalkan hampir katakanlah ratusan juta jiwa di Indonesia konon hanya diproduksi hanya 150 eksemplar. Aku masih ingat Benedict Anderson pernah mengatakan bangsa itu komunitas yang dibayangkan,dan ya, kami membayangkan kota dengan cara kami dan dan belajar membagi proyeksi itu sesuai kapasitas kami. Dan ya, aku mencari teman-teman yang seiman pada kota. Pada keadaan lebih baik dan dengan cara-cara yang masih masuk akal bagi kami. Tak mau muluk-muluk juga merubah kota dalam skala besar. Kami hanya menularkan kesadaran ini dan membangun basis nilai di antara teman-teman kenapa harus bertahan, dan kenapa harus kontekstual. Kota ini kekurangan orang-orang yang berkarakter, dan sekarang yang dibutuhkan adalah membangun basis nilai. Katakanlah disupport dana besar pun jika orang-orangnya tak siap pasti juga gagal dan hanya membuat mereka menggantungkan diri pada  tali asih. Dan itu memalukan.
Kalau Jatiwangi bisa kenapa kami nggak? Kalau Sutanto Mendut bisa kenapa kami nggak? Kalau Ujung Berung bisa kenapa kami nggak? Lagian kami rata-rata masih muda, jenjang karir masih panjang, kenapa ragu?