Sabtu, 14 Mei 2011

BEBAN IDEOLOGIS TUBUH PENARI


Bagaimanakah jika sebuah tarian disajikan tidak hanya berdasarkan kualitas estetis? Kira-kira muatan ideologis itu akan menambah nilai lebih ataukah malah mereduksi tarian menjadi terlalu cerewet dan menggurui? Sepertinya hal itulah yang hendak ditaklukkan Eko Supriyanto. Koreografer yang sudah lama malang-melintang di dunia tari ini rupanya memandang tari tidak hanya sebatas penjelajahan kreatif tetapi juga sebagai representasi intelektualitas dan kegelisahan seniman dalam merespons fenomena sosial di sekelilingnya. Implikasinya tubuh mengemban beban ideologis dan menjadi alat perpanjangan ide-ide.
Awake – ning, judul repertoarnya, rupanya beranjak dari kepedulian Eko terhadap keadaan lingkungannya. Awake- ning yang bermakna ganda baik dari bahasa inggris awake (bangun, membangunkan) yang mendapat gerund -ing maupun dari bahasa jawa awak (tubuh) yang ning (bersih) dimaksudkannya sebagai upaya untuk kelahiran (kebangkitan )kembali setelah tubuh ini dibersihkan dari segala kotoran dan nafsu.
Adegan dibuka dengan kemunculan lelaki yang perlahan-lahan menari balet. Peristiwa khusyuk ini lantas dikontraskan dengan kedatangan empat penari lelaki yang menari secara rancak. Adegan dilanjutkan dengan tarian balet yang biasanya sering dimainkan perempuan. Dalam konteks ini sang lelaki didandani layaknya perempuan. Disusul kedatangan empat lelaki lagi yang menggantikan sang cowok sementara di belakang mereka seorang lelaki tua muncul dari sebalik panggung menembangkan lagu-lagu jawa. Sekian menit kemudian perempuan memasuki panggung sambil tertawa-tawa memanggul sebongkah es batu.
Sampai di sini belum jelas apa relevansinya landasan konseptual Awake-ning yang terejawantahkan dalam gerakan tari. Relevansi pembersihan diri, pemuda berpakain balet diiringi musik barat dengan tembang-tembang jawa yang dilantunkan masih belum nampak benang merahnya kecuali tabrakan-tabarakn kultural yang barangkali hendak disajikan sebagaimana ambiguitas makna Awake-ning. Timur dan barat, balet dan tetembangan jawa berikut pakaian khasnya, tidak dipedulikan lagi karena pada dasarnya pembersihan diri dan kebangkitan adalah wilayah universal.
Adegan berikutnya yakni kedatangan cewek dengan menyeret sapu ke seluruh ruangan, lelaki yang menari memutar dan perkelahian antar penari perempuan. Adegan ditutup dengan soerang wanita menjadi sentral bagi yang lain. Rambutnya dipegangi penari lainnya dan es batu telah dipulangkan. Properti yang berfungsi sebagai simbol yang sering ditampilkan adalah es batu dan sapu lidi. Ada juga gerakan repetitif yaitu gerakan bergoyang seperti bersetubuh seakan hendak menegaskan sesuatu.
Ide awal pemunculan es sendiri menurut penuturan koreografer yang pernah diajak Madonna keliling ini berasal dari imajinasi tentang rasa haus itu sendiri. Hasrat membersihkan dilukiskan sebagai hasrat akan pemenuhan dahaga yang-tidak hanya sekedar air- tetapi es. Sesuatu yang lebih dingin dan sangat diinginkan saat matahari sedang terik-teriknya. Goyangan yang menyerupai persetubuhan menjadi representasi dari bumi yang terus bergoyang. Lelaki - perempuan, lingga - yoni, yin - yang adalah kodrat alami yang keduanya saling melengkapi. Sedangkan pemaksimalan sapu lidi sendiri yang sering berkonotasi dengan alat kebersihan diperlakukan secara imajinatif, misalnya ia bisa berubah menjadi kuda, semacam dupa yang harus ditabur, dan anak panah untuk membidik perwakilan dari nafsu-nafsu kotor. Transformasi dalam berbagai bentuk ini cukup menarik. Sapu telah dielaborasi sehingga melahirkan imajinasi visual berlainan. Sesuatu yang mengingatkan kita pada masa kanak-kanak yang polos dan bersih serta memililki keliaran imajinatif tak terduga.
Tidak hanya berhenti sampai di situ, repertoar kedua yang berjudul El juga hendak melakukan ekplorasi kreatif dalam kaitannya penemuan gerak melalui aktivitas lompat dan berputar. Seperti diketahui dalam banyak tradisi tari jawa klasik melompat dan berputar kurang mendapat tempat. Dari sini lantas Eko membebaskan para penarinya mencari sebanyak-banyaknya kemungkinan kosa gerak ini.
Melompat dan berputar menjadi ide utama bagi bahasa gerak para penari. Ada gerakan yang disusun secara komposisif dan ada juga yang bersifat main-main. Misalnya gerakan mencari kemungkinan menggunakan sprinter. Bahkan tidak bisa diketahui apakah kesalahan yang terjadi di panggung mempunyai unsur kesengajaan atau bukan. Para penari sepertinya tidak terbebani, mereka lincah bergerak, melompat dan berputar riang. Setiap kesalahan (jika memang ada) disikapi dengan cair. Estetika menjadi tujuan dan beban berat tubuh pada repertoar pertama mendapatkan rileksasinya di sini. Penari mendapatkan kebebasan atas tubuhnya kembali dan semangat homo ludens ditekankan.

Kegagapan Menaklukkan Ruang

Sekilas pementasan mereka terlihat baik-baik saja namun visualisasi gagasan yang hendak diemban tubuh kurang daya bidiknya, terutama menyikapi penampilan tarian pertama mereka. Hal itu bukan dikarenakan gerakan penarinya tidak indah. Kegagalan komunikasi ini dipicu oleh persoalan ruang yang tidak bisa ditaklukkan para penari dan lebih-lebih tim artistik. Akhirnya malam itu Eko tampil ‘tidak seperti biasanya’ atau dalam istilah lain ‘belum Eko banget’. Beberapa praktisi tari dan pemilik sanggar tari misalnya Anik KJ dan Yoyok Priambodo bersepakat dalam hal ini. Eko Supriyanto bisa dikatakan tampil tidak secara maksimal. Gagasan-gagasan yang tidak terkomunikasikan dengan baik ini lebih terasa di Awake – ning.
Gedung yang terletak di kompleks museum Ranggawarsito dan berkapasitas 150 orang (mengingat tempat duduk yang disediakan) meskipun lumayan terisi ini ternyata belum bisa memicu spirit para penarinya. Minimnya pengunjung kali ini terulang lagi seperti pada tahun sebelumnya saat Kelola memberikan hibah pentas keliling tari (juga mengambil tempat Semarang). Persoalan publikasi menjadi kendala utama. Entah karena kurangnya koordinasi panitia atau apa yang jelas hampir-hampir kedatangan Eko Supriyanto tidak begitu diketahui khalayak kesenian Semarang lebih-lebih masyarakat awam.
Di samping itu tim artistik Eko kedodoran untuk membangun atmosfer yang bisa mengeluarkan soul baik para penari maupun penikmatnya. Panggung berlantai keramik dengan standar gedung mantenan (pernikahan) dibiarkan apa adanya. Suasana sublim direcoki patung Garuda yang tidak ditutup apa-apa dan seting sekenanya. Akhirnya para penari terkesan hanya berpindah tempat latihan. Tubuh yang berisi bermacam gagasan dan naluri estetik tadi menjadi hambar. Gerakan mirip persetubuhan sebagai lambang bergoyangnya bumi lebih kelihatan sebagai ‘persetubuhan pada umumnya’. Beberapa kasak-kusuk di kursi penonton malah berbisik mengenai pornografi. Kegagalan komunikasi yang melahirkan aberrant decoding (pembacaan yang salah) lebih mendominasi daripada kekayaan tafsir para penikmat tari ini.
Keadaan ini semakin diperparah dengan tata cahaya yang standar. Cahaya yang bisa menjadi sangat simbolis hanya berperan sebagai penentu gelap dan terang semata. Cahaya dan setting menjadi sangat kontraproduktif terhadap kekayaan kosa gerak penari dan keluhuran gagasan koreografernya. Sungguh sangat disayangkan.
Peran bunyi sebagai ilustrasipun sangat minimalis. Eko hanya menggunakan lagu-lagu jadi dari MP3 nya. Suasana etnik yang dibangun dari lagu tersebut terasa hampa, belum lagi pemutarnya yang kurang canggih serta akustik gedung yang biasa saja. Mungkin alasan kepraktisan menjadi timbangan utama. Namun untuk seniman sekelas Eko hal itu akan menjadi catatan tidak baik yang kelak akan menodai pertunjukannya sendiri. Pada intinya kegagalan utama pementasan ini adalah perihal penaklukan ruang. Ruang yang ditaklukkan dengan sendirinya akan menghadirkan suasana sehingga ide-de besar itu dapat menyusup secara laten.
Pada kasus repertoar kedua bangunan ide tidak begitu dipermasalahkan. Persoalan ruang meskipun tetap saja mengganggu pencecapan estetik tidak jadi soal. Karena barangkali sifat cairnya dan semangat bermain-main lebih melenakan penonton daripada konstruksi gagasan yang hendak dilesapkan pada benak penonton pada pertunjukan pertama. Suasana sublim dan mistis pada repertoar Awake – ning menjadi tuntutan mutlak jika ingin saratnya beban ideologis merasuk dalam kesadaran penonton.
Namun demikian pertunjukan sepanjang 2 jam an ini tetap saja menghibur. Sepinya alternatif hiburan maupun gagasan kreatif menjadikan repertoar ini sangat layak diapresiasi publik Semarang. Di tangan Eko tari telah menjadi sarana menarik untuk membumikan gagasannya. Terlepas dari baik buruk, yang jelas kelompok Solo Dance Studio ini memberikan kemungkinan menarik untuk memperlakukan tari. Di tangan mereka tradisi tidak terjebak pada pengulangan. Tradisi menjadi yang tidak hanya dijaga tetapi juga dipertanyakan, dikaji ulang dan dikontekstualisasikan. Tanpa itu semua tradisi hanya akan menjadi wisata masa lalu dan kelak akan ditinggalkan oleh orang-orang yang tidak mempunyai ikatan kepadanya.
Ke depannya pentas keliling ini diharapkan tidak hanya berhenti sebagai aktivitas pertunjukan semata tetapi juga memberikan jejak-jejak kreatif tampat yang disinggahinya. Misalnya dengan memberikan workshop atau minimal diskusi kecil paska pentas perihal gagasan kreatif demi terciptanya ruang lebar kemungkinan. Dari situ diharapkan tercipta perluasan persebaran gagasan dan kalau dimungkinkan proyek kolaboratif yang kelak memajukan masing-masing pihak.

Sabtu, 07 Mei 2011

Future Leader Summit


FLS 2011 adalah satu perhelatan untuk menandai kebangkitan generasi muda Indonesia dalam mencanangkan perubahan ke arah konstruktif-edukatif-kreatif. Satu hari penuh, partisipan yang kemudian disebut sebagai young leader akan berkumpul dan melakukan inisiasi bersama para pembicara yang sudah membuat perubahan dalam 6 pilar bidang utama penggerak di Indonesia maupun di internasional.

Peserta yang merupakan generasi muda akan ber...negosiasi, mengungkapkan ide, merancang proyek, dan membaur dengan young leader lainnya untuk bekerjasama mengembangkan proyek mereka. Para pembicara akan menjadi obor yang menyalurkan api perubahan kepada para young leader dalam sesi-sesi yang dirancang penuh kreativitas dan keunikan.

Lebih lanjutnya, diharapkan perhelatan ini dapat membawa angin segar di kalangan anak muda dan membuka kesempatan bagi mereka untuk mengetahui potensi diri sejak awal dan mengembangkannya dengan baik di kemudian hari. Sehingga diharapkan akan muncul output-output yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi untuk dapat terus aktif berkompetisi di tengah dunia yang dinamis dan tantangan globalisasi.

VISI Future Leader Summit 2011

- Mencetak para pemimpin muda yang dapat membawa perubahan positif di sekitarnya dalam bidangnya masing-masing.
- Membawa perubahan positif bagi Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya melalui talenta-talenta muda berbakat.

MISI Future Leader Summit 2011

- Mengajak anak-anak muda untuk aktif melakukan perubahan positif di sekitar mereka mulai dari hal-hal sederhana
- Menginspirasi serta memotivasi calon pembaharu muda dengan mendatangkan para inspirator untuk melakukan aksi nyata secara kontinyu dalam melakukan perubahan
- Mengadakan satu acara sebagai wadah untuk mengawali inisiasi perubahan yang sustainable


Akan ada masing-masing 2 speakers di ruangan yang bisa dipilih oleh peserta:

1) Environment
a) Yangki Imade Suara
b) Ara Kusuma

2) Sport Art Culture
a) Agus Waluyo
b) Taufik Hidayat Udjo

3) Education
a) Annisa Hasanah
b) Febi Dwityorini

4) Business Development
a) Goris Mustaqim
b) Mohammad Iqbal

5) Creative Writing
a) Trinity Traveler
b) Adin Hysteria
c) Andromeda Kanginan

6) Research
a) Drs. H. Indriyanto, SH, M.Hum
b) Slamet Budi Cahyono

Masing-masing ruangan memiliki 2 pembicara yang terkenal dan mumpuni di bidangnya. Kami juga menghadirkan seorang anak muda hebat sebagai Keynote Speaker: Iman Usman (http://imanusman.com/).

Untuk mengetahui lebih jauh tentang Future Leader Summit 2011 silakan langsung menuju

blog kami: http//futureleadersummit.wordpress.com
follow twitter kami: @FLSummit2011,
email: futureleadersummit@yahoo.com
Direct: 085641301757 (Cresti)

Hanya peserta terpilih setelah diseleksi dari formulir yang masuk yang akan beri kesempatan mengikuti Future Leader Summit 2011. Kontribusi untuk Mahasiswa UNDIP (IDR 35.000) dan UMUM (IDR 45.000).

Change? Make it Happen!
Pilih sendiri Room favoritemu

Selasa, 03 Mei 2011

lokakarya pengorganisasian


SEBAGAIMANA diketahui bahwasanya membuat sebuah komunitas atau organisasi sangatlah mudah. namun yang paling sulit adalah merawat dan membuatnya bertahan lama. ada banyak hal yang membuat komunitas tidak tahan lama. biasanya persoalannya jug aitu -itu juga, konflik internal dikarenakan kurangnya kesadaran antar anggota, ketidaktransparansian, ketidakjelasan pembagian kerja dan banyak lagi yang lain. seringkali kegagalan dalam berkomunitas tidak disebabkan karena faktor eksternal tetapi lebih banyak karena hal hal internal yang tidak selesai. persoalan yang didiamkan tanpa ada pembicaraan dalam forum kadagn menjadi pilihan untuk meredam konflik. tapi justru itu konflik yang laten semakin terakumulasi dan ujung-ujungnya meledak suatu saat.
sungguh disayangkan ketika hal ini terjadi, padahal di tengah abainya permerintah terhadap penciptaan ifrastruktur dan para senior pemegang kuasa yang acuh, piliha berorganisasi, berserikat, berkomunitas bisa menjadi piliah yang dangat strategis dan politis. namun sayangnya ketidaktepatan strategi pengelolaan dan kurangnya kesabaran membuat mimpi-mimpi dan idealisme yang membuncah harus hancur lebur karena pihak internal komuntias itu sendiri tidak siap.
untuk itu Hysteria yang berkepentingan terhadap teriptanya infrastruktur yang lebih baik merasa perlu untuk membaut lokakarya ini agar komunitas - komunitas potensial inid apat bertahan dan saling peduli.
pada kesempatan kali ini Hysteria mengundang Reggi Kayon Munggaran dan Iponk Laknat (atas ajakan bung reggi). kami berharap dari pengalaman keduanya kita bisa saling berbagi dan belajar bagaimana supaya sel sel kecil ini terus bertahan, berkembang, membelah diri dan pada saatnya menjadi kontra kultur yang statis dan cenderung korup.

TENTANG TAMU HYSTERIA

1. Reggi Kayon Munggaran pernah berkiprah di berbagai organisasi antara lain: LBH Bandung, Foot not Bombs, West Java Corruption Watch, FAMU, Solidaritas Independen Bandung, Jurnal Apokalips, Commonroom, Rumah Cemara, dan sekarang bersama PT Urbane pimpinan Ridwan Kamil mengelola Urbane Community (Ridwan Kamil juga menjadi ketua BAndung Creative City Forum). Selain itu Reggi juga pernah membantu Ucok mencari materi untuk album Homicide. Karena aktivitasnya itu sesaat lalu Reggi diundang dalam acara Kick Andy. Info lain Reggi baru saja pulang dari Amerika untuk kunjungan pendek.

2. Iponk Laknat, mantan preman yang besar di kawasan Babakan Asih ini sekarang bersama warga mengelola daerahnya sendiri dengan semangat kemandirian. Iponk yang pernah dipenjara 3 kali ini (2 x kasus kekerasan, 1 x narkoba) sekarang menjadi penjaga warnet dan berkat usaha dia dan teman-teman kawasan padat dan kumuh itu sekarang mempunya ruang publik, sumur resapan dan tata kelola unik. Iponk beberapa waktu lalu sempat muncul di TV One dalam program yang inspiratif.

Kamis, 28 April 2011

Suara Dari Pati


(pameran sub kultur punk dari Pesisir Pantura)
oleh: Adin

Pada awalnya adalah api yang menyala. Kalau ditanya hendak membakar apa? Ya..membakar apa aja yang bisa dibakar – Attak Instruktiffight

Aku bertemu Attak sekitar tahun 2008 di Festival Mata Air (Salatiga). Saat itu aku melihat anak muda di kelilingi zine dan bersetia di tempat itu untuk lapakan. Sempat terlontar pertanyaan yang nadanya meremehkan dariku waktu aku Tanya berasal dari mana dan dia bilang dari Pati. “Emangnya di Pati ada yang beginian?” hahaha rasis dan naif banget pertanyaan waktu itu.
Pertemuan kami selanjutnya terjadi di Blora waktu mengenang 1000 harinya Pramoedya Ananta Toer. Dari situ aku merasa bahwa anak ini menarik. Tapi sampai sejauh itu aku berlum tergerak untuk menggali lebih dalam. Baru setelah tahun 2010an aku merasa perlu untuk menjalin hubungan dengan Attak di Pati.
Membicarakan Attak tentu ikut membicarakan pula instruktifffight, roemah geogah, masuk angin, tikus hitam, super samin inc, kasus semen dan seabrek kegiatan lain yang dia tekuni selama bertahun-tahun. Attak yang bernama lengkap Jatra Palepati ini (lahir 08 Agustus 1980) telah bersetia di jalur Hardcore Punk sejak SMP hingga sekarang. Sebuah kesetiaan yang menurutku cukup tangguh dan menjadi alasan kenapa Hysteria mengundangnya untuk mempresentasikan gagasannya dalam bentuk karya. Tidak penting bagiku apakah semua karya orisinil atau tidak. Praksis yang menahunlah yang membuat aktivitasnya terdengar lebih ideologis ketimbang sok-sok an dan angin-anginan.
Besar di Palembang membuatnya bersentuhan banyak dengan aktivitas permusikan hingga akhirnya pada tahun 2004 Attak mengikuti saran keluarganya pindah Pati. Di kota Saridin ini hampir-hampir Attak mengalami kemandegan. Pati, kota kecil yang jauh dari hingar bingar gerakan sub kultur (jika dibandingkan dengan Jogja, Bandung, Jakarta dan kota-kota besar lain) telah memaksanya untuk lebih banyak melakukan inisiatif daripada harus menunggu umpan. Akhirnya di tengah keterbatasannya lahirlah Santai Zine tahun 2004, terbitan alternative pertama yang disusun secara kolase. Zine ini berbicara tentang kultur punk yang tercerabut dari konteksnya: perlawanan secara massif dan simultan terhadap budaya dominan yang cenderung jinak dan tanpa daya kritis. Punk harus menanyakan nilai-nilai itu dan memberinya tawaran nilai yang baru sebagaimana akar dari punk itu sendiri. Baginya punk yang dijaja-jajakan dalam ruang-ruang festival yang ditanggung oleh sponsor besar tak lebih dari punk yang terdomestifikasi dan terjebak pada gaya hidup tanpa menyadari konten dan konteksnya.
Kegelisahan Attak tidak berhenti di situ saja, pada tahun 2006 ia memutuskan lebih banyak beraktivitas di Blora bersama Koko (supersamin inc). Di Blora, Attak bersinggungan dengan persoalan-persoalan yang lebih membumi: Bupati yang korupsi, Blok Cepu dan kehidupan anak-anak di sana yang kadang (dan hingga sekarang) sering disalah pahami. Kadang-kadang Attak dan teman-teman di sana membuat demo tentang hari bumi, demo angkot, dan tentu saja mengorganisir acara musik. Hingga mereka dipertemukan dengan masyarakat Samin yang pada tahun-tahun itu bersikutat dengan persoalan penolakan terhadap PT Semen Gresik.
Di beberapa karyanya Attak mempunyai perhatian besar terhadap kasus semen. PT Semen Gresik yang bernafsu menambang di daerah kendeng yang merupakan pegunungan karst. Pegunungan Kendeng sendiri menyimpan potensi sebagai daerah resapan dan konon mempunyai sungai bawah tanah. Dan pada kenyataannya di daerah sekitar Gunung Kendeng ini tanahnya cukup subur. Tentu saja kasus ini tidak berhenti di sini karena mundurnya PT Semen Gresik dibarengi dengan massifnya invasi Indosemen untuk membangun pabrik semen di daerah itu-itu juga. Apalagi RTRW Provinsi yang tanpa didukung Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) mengondisikan pegunungan Kendeng memang diperuntukkan sebagai daerah tambang!
Yap! Berbicara Attak mau tidak mau berbicara segala hal yang bersinggungan dengan hal-hal besar pula. Menyadari bahwa suara-suara ini adalah suara yang patut didengar dan diperhatikanlah Hysteria menggelar pameran ini. karya-karya yang dipajang tentu bukanlah karya-karya khas dwimatra sebagaimana selama ini sering bercokol di benak rekan-rekan. Yang dipamerkan di sini berupa foto, sablon, stencil, dokumentasi, zine, kliping Koran, dan berkas-berkas yang merepresentasikan Attak dan dinamikanya di Pati dan kota sekitar.
Sampai hari ini Attak masih aktif menggelar karya di jalanan dan ikut mengadvokasi secara artistik kasus semen di Pati dan isu-isu sosial lain. Tidak semua karya kontekstual dengan persoalan di Pati tentunya. Ada beberapa isu besar yang diangkat Attak yang sampai hari ini pun masih kontroversial di Pati. Artikel beberapa waktu lalu yang ditulis oleh Suara Merdeka menunjukkan bahwa aktivitas Attak telah menarik perhatian pemkot Pati dan konon gara-gara itu pula ikut mempersulit keadaan anak-anak street punk dan elemen lain yang belum siap untuk bergerak secara radikal. Konon Attak bahkan menghindari mesin fotokopi dan memilih menyablon poster-posternya sendiri untuk ditempel di ruang publik. Strategi ini ditempuh bukan untuk nggaya-nggayanan tetapi lebih karena aktivitasnya telah mengakibatkan usah perfotokopian dipantau oleh satpol PP dan intel di Pati. Menurut satpol PP Attak dan kawan-kawan telah melanggar UU Reklame kota.
Kalau ditanya apa sih yang mempengaruhinya selama ini, selain pergaulan Attak tidak akan menyembunyikan keterpengaruhannya pada Marginal, Homicide, Balcony, Runtah, DOM 65, Sex Pistol, Rancid, Crass, dan warisan darah sang ibu yang ternyata mempunyai ketertarikan kuat di bidang dokumentasi (Ibu Attak mempunyai hobi Fotografi). Warisan budaya mendokumentasikan inilah kiranya yang membuat Attak rapi dalam hal pengarsipan dan beruntunglah kita bisa menikmatinya dalam pameran ini, belajar bersama dan seperti statement Attak: bisa membakar apa saja! Membakar api kreativitas dan daya kritis kita.


Pameran ini terselenggara atas kerjasama antara Hysteria dengan Roemah Goegah. Pameran berlangsung sejak 27 April hingga 08 Mei 2010.

Jumat, 22 April 2011

SUARA DARI PATI

SUARA DARI PATI
PAMERAN SUB KULTUR PUNK BY ATTAK INSTRUKTIFFIGHT
27 APRIL- 08 MEI 2011
Grobak A(r)t Kos
Jl. Stonen no 29 BEndan Ngisor Semarang
(024) 8316860
www.grobakhysteria.org

tidak banyak memang anak muda yang konsisten melakukan sesuatu. attak merupakan salah satu dari sedikit orang yang menurut amatan saya cukup konsisten untuk bersetia di root HC/ Punk. lebih-lebih wilayah tinggalnya adalah di Pati, sebuah kota kecil yang barangkali jauh dari hingar bingar kehidupan sub kultur jika dibandingkan kota-kota besar lain, katakanlah Jakarta, Bandung, Jogja dll. Attak bersetia dari tahun ke tahun dengan berada di jalur itu. berbagai ekspresi dia tuangkan mulai dari musik, zine, propaganda liar, aksi dan unjuk rasa, sablon menyablon, mengelola distro dan merchandising, serta menggelar gigs. aktivitasnya sempat memicu kontroversi d kotanya sendiri bahkan hingga hari ini.
pameran ini menampilkan aktivitas Attak sebagai episentrum dari semua gagasan yang dia realisasikan. memotret perjalanan kreatif Attak dari beberapa tahun terakhir ini. kiranya darinya kita bisa bertukar gagasan dan bersilang pendapat kira-kira apa yang membawanya hingga sejauh ini dan apakah kita bisa saling belajar dari proses yang sejatinya tak pernah berhenti ini (Adin)

jadual:

27-04-2011, 19.30 WIB
Pembukaan Pameran
28-04-2011, 10.00 WIB-selesai
workshop stencil art dengan Roemah Goegah*
01-05-2011, 19.30 WIB-selesai
screening Melawan Semen dan diskusi sekaligus peringatan May Day
rencana diskusi akan menghadirkan juga dari pihak LBH Semarang
08-05-2011, 10.00 WIB-selesai
sablon motif Tan Malaka dan Pramoedya Ananta Toer serta closing pameran. bagi teman-teman yang berminat untuk menyablonkan kaosnya silakan datang dijamin tidak akan kecewa.

*kontribusi Rp. 5000,- (keperluan workshop dan cemilan)

Kamis, 21 April 2011

Bumi, Ibu Kehidupan Yang Luluh Lantak


(Peringatan 41 Tahun Hari Bumi Internasional)

Filosofi yang berkembang di masyarakat seluruh dunia meyakini bahwa bumi adalah ibu dari kehidupan. Apabila mempelajari sejarah filsafat, pada abad sebelum masehi, manusia selalu mendiskursuskan tema mengenai asal kehidupan yang tidak sedikit para filsuf berkeyakinan bahwa bumi menjadi ibu dari kehidupan (J.Copleston S.J, 1990). Pada era yang membicarakan asal kehidupan dengan mengaitkannya kepada kosmos inilah muncul istilah kosmologi.

Sebagai seorang ibu, bumi menyediakan kebutuhan hidup bagi “anak-anaknya” (manusia, hewan, dan tumbuhan). Dari seluruh anak-anak yang bumi miliki, manusia adalah “anak” yang paling tidak menghormati ibunya. Bumi sering menanggung perbuatan-perbuatan tidak wajar dari manusia yang mengeksploitasi dirinya (sebut saja sebagai kejahatan atas bumi). Pengrusakan, pencemaran, dan tindakan-tindakan pengabaian eksistensi bumi kerap terjadi disebabkan oleh faktor ekonomi maupun faktor ketidak-perdulian (kultural).

Terminologi bumi di sini lebih akrab diganti dengan terminology lingkungan hidup (environment). Meskipun demikian makna yang dimaksud tidaklah berbeda. Apabila melihat kasus kejahatan atas bumi yang dilakukan dalam lingkup global, dengan mudah dapat disebut permasalahan efek rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global. Pemanasan global ini berpengaruh terhadap mencairnya es di kutub-kutub bumi sehingga permukaan air laut juga menjadi naik dan pengaruh terhadap siklus iklim. Kenaikan permukaan air laut mengakibatkan banjir lebih besar dari waktu sebelumnya dan iklim yang lebih sukar diprediksi memakan korban di seluruh negara tetapi khususnya negara-negara miskin yang penghidupannya masih sangat dipengaruhi oleh iklim.

Hasil Konferensi PBB Untuk Perubahan Iklim (United Nation Climate Change Conference) di Kopenhagen, 192 negara yang hadir sepakat merumuskan beberapa aksi yang akan diambil yakni; pertama penetapan peningkatan suhu dunia maksimal berkisar 2°c; kedua menuntut Negara maju mengalokasikan dana US$ 30 Miliar yang akan digunakan untuk biaya adaptasi dan mitigasi Negara berkembang; ketiga menentukan format penyampaian informasi mengenai mitigasi dan adaptasi dari negara maju ke negara berkembang; keempat mengadakan mid-review pada 2015.

Poin kedua di atas diberi font berbeda dan digaris-bawahi bertujuan untuk memberi fokus penulisan. Dana US$ 30 Milyar ini berasal dari sumbangan negara-negara maju khususnya negara-negara yang maju industrinya karena dari industry merekalah penyumbang gas karbon terbesar. Sebagai contoh, Amerika Serikat. Amerika Serikat adalah negara dengan konsumsi minyak bumi terbesar dan negara industry terbesar yang menyumbang gas karbon juga terbesar. Dengan kata lain, Amerika Serikat sangat berkontribusi terhadap pencemaran global sehingga ia diwajibkan membayar biaya mitigasi dan adaptasi terbesar. Dana ini dijadikan dana pembiayaan atas memitigasi laju suhu serta untuk dana adaptasi di negara-negara miskin dan berkembang. Dari hasil Konfrensi PBB tersebut terdapat kecendrungan pihak barat mau menekan usaha laju perkembangan negara-negara dunia ke-3 dengan mengurangi emisi gas buang mereka, padahal sebagai mana kita ketahui sebagian besar proses kemajuan zaman didukung oleh industrialisasi yang sebagian besar berhubungan dengan produksi emisi gas buang. Sebagai contoh kegiatan industri di beberapa wilayah di Indonesia dan beberapa negara asia lainnya akan berhenti karna acuan hasil konfrensi PBB tersebut. Saat kegiatan tersebut dihentikan demi mengurangi emisi gas buang negara maka akan berdampak pula pada menganggurnya ribuan pekerja yang menggantungkan pekerjaan mereka pada hal tersebut.

Indonesia sebagai anggota UNFCC dengan luasan wilayah yang sangat besar dan sebagai negara dengan luasan hutan termasuk terbesar di dunia akan mendapatkan dana pembiayaan yang besar dari dana mitigasi ini. Sekaligus Indonesia akan mendapatkan biaya juga untuk adapatasi.. Korupsi menggila di negara ini juga membuat masyarakat cemas apakah dana pembiayaan dari UNFCCC benar-benar akan dialokasikan untuk menanggapi perubahan iklim. Program UNFCCC ini biasa disebut Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD). Jika tidak dipergunakan benar-benar untuk membantu masyarakat Indonesia yang rentan menjadi korban perubahan iklim, maka Pemerintah Indonesia sama saja dengan membiarkan masyarakat mati pelan-pelan akibat keganasan perubahan iklim.

Apa yang dipaparkan di atas adalah kasus global yang berelasi dengan kasus nasional. Tetapi pembicaraan tidak berhenti pada ini saja. Kejahatan terhadap bumi terjadi hingga ke wilayah-wilayah yang lebih kecil dari negara Indonesia ini, yakni kota. Untuk Kota Semarang, data yang dimiliki YLBHI-LBH Semarang sepanjang tahun 2010 terjadi banyak sekali kejahatan terhadap bumi. Mulai dari pencemaran air oleh pabrik, penambangan illegal, kerusakan lingkungan akibat industry dan pertambangan, banjir akibat reklamasi, dan sebagainya.

Apa penyebab dari semua ini? Kebijakan pemerintah jawabannya. Pemerintah Kota Semarang lemah sekali dalam menjaga kelestarian bumi di Semarang. Sebagai contoh, Pemkot tidak berani menindak tegas PT. IPU (Indo Perkasa Usahatama) di pesisir utara Semarang yang nyata-nyata merusak lingkungan pesisir Semarang. Ini baru kasus di tahun 2010 yang tercatat oleh LBH Semarang. Pada tahun 2011 ada serangkaian kejahatan terhadap bumi yang terjadi di kota ini. Sebagai contoh yang nyata, dapat ditunjuk kasus Bukit Stonen yang menjadi korban dari pengusaha yang tidak bertanggung jawab dalam penataan dan pemanfaatan lahan yang mereka miliki. Pengusaha di sini adalah PT. Podo Rukun. Akibatnya, terjadi banjir lumpur di jl. Stonen Bendan Ngisor dari hasil pengerjaan proyek PT ini. Lagi-lagi, Pemkot lalai dalam pemberian ijin serta dalam menindak perbuatan PT yang merugikan masyarakat sekitar. Kerugian masyarakat berupa harta materiil dan berupa pencemaran sumur-sumur konsumsi di wilayah ini.

Ketidak-perdulian Pemerintah Kota Semarang tercermin dari kebijakan-kebijakan yang diterbitkan. Pada tahun 2010, Perda RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) Provinsi Jawa Tengah telah diberlakukan. Otomatis, setiap kabupaten/kota di Jawa Tengah harus segera menyusun Perda RTRW Kabupaten/Kota. Pada Perda RTRW Provinsi Jateng, Pemprov tidak mempertimbangkan secara cermat mengenai penataan dan pemanfaatan ruang. Terlihat dari ditetapkannya kawasan lindung pegunungan karst Kendheng Selatan sebagai kawasan pertambangan/industri. Tentu saja melanggar perundangan yang lebih tinggi, yakni UU Tata Ruang Nasional. Kekeliruan dan kecerobohan penataan dan pemanfaatan lahan ini disebabkan karena perda ini mengabaikan nilai penting dari dokumen KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis). KLHS menjadi penting karena sebelum menerbitkan perda, pemerintah diwajibkan membuat suatu kajian mendalam mengenai keadaan lingkungan hidup.

Untuk Raperda RTRW Kota Semarang juga demikian. KLHS diabaikan dengan alasan yang serupa dengan alasan pengabaian KLHS dalam Perda RTRW Provinsi. Alasannya, UU No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, yang mewajibkan penyusunan KLHS pada setiap peraturan hukum yang berimplikasi kepada lingkungan hidup, belum memiliki peraturan pemerintah sebagai acuan teknis penyusunan KLHS. Pemkot maupun Pemprov lalai dalam melihat bahwa KLHS bukan sekedar dokumen formalitas (dimana seperti biasanya dokumen formalitas selalu menemui ruang untuk dibuat sekenanya atau bahkan tidak dibuat) yang menunggu tindakan pro aktif dari pemerintah pusat dulu (untuk membuat peraturan pemerintahnya) barulah pemerintah daerah menyusun KLHS.

KLHS harus dilihat sebagai dokumen yang memang sudah sewajarnya perlu ada dalam Perda RTRW karena jika Pemerintah Provinsi Jateng dan Kota Semarang melihat ini sebagai kebutuhan dalam melestarikan lingkungan hidup, Pemprov Jateng dan Pemkot dapat melakukan penyusunan KLHS yang substansial (KLHS yang substansial pasti mengedepankan aspek-aspek substantive tanpa menyerah kepada mekanisme formal yang ternyata bertele-tele) bukan KLHS yang formal (KLHS formal dimaksud adalah KLHS yang harus menunggu peraturan pemerintah dibuat dahulu baru KLHS disusun).

Pada akhirnya, kesimpulan dari penulisan ini adalah bumi selalu menjadi korban dari kerakusan anaknya, manusia. Manusia global yang industrialis melakukan kejahatan terhadap bumi berupa pencemaran melalui pelepasan karbon hasil industri dan dengan ekstra-konsumtif atas penggunaan bahan bakar fosil (minyak bumi). Sementara manusia di Negara Indonesia khususnya pemerintah sibuk dengan transaksi REDD yang rawan korupsi. Sedangkan manusia di Provinsi Jateng dan Kota Semarang “khilaf” dan “lemas” dalam perlindungan kelestarian bumi di wilayahnya, sehingga penyusunan kajian perlindungan atas bumi terpentok kepada mekanisme formal yang bertele-tele.


Narasi di atas menjadi landasan gagasan yang akan di direspons secara artistic oleh Lingkar Bumi (perlindungan dan pelestarian bumi). Lingkar Bumi digagas oleh LBH Semarang, Hysteria, Karamba Art Movement (seni rupa), Molek (tari), LAcikata, Teater ASA dan Teater EMka.



IMAJINASI ADALAH ENERGI


"IMAJINASI ADALAH ENERGI" Artwork Exhibition.

Menunggu karyamu beragam bentuk seni rupa (Lukis, Gambar, Kolase, Foto, Zine, Komik,dll) sampai tanggal 10 Mei 2011.

Yang akan dipamerkan di
GROBAK A(R)T KOS
JL. STONEN NO.29 SAMPANGAN-SEMARANG

More info:
Purna 085669628380
Riska 085641515400
Anisa 085640816826