Senin, 30 September 2013

Iman pada Kota

Adin

Beberapa bulan belakangan ini dalam twitter selalu aku twit kalimat ini ‘Seni untuk Kota Lestari’. Kalimat ini bukan kalimat latah dan asal yang kemudian aku distribusikan secara massif. Kalimat ini adalah sebentuk penegasan sikap berkesenian dalam merespons isu-isu terkini. Sebelum ‘menemukan’kalimat singkat itu, sering aku ngobrol sama Tri Aryanto, Noviaji, dan beberapa kawan yang lain. Sebenarnya kami itu berkesenian untuk apa sih? Capek-capek merawat ‘kegilaan’ ini namun tak tahu persis apa yang diperjuangkan. Meski sebenarnya tak disoreintasi-disorientasi amat. Setidaknya kalau menurut program yang dijalankan di Hysteria dan ketertarikan personalku, yang kulakukan mempunyai kecenderungan pada kota dan seni-seni urban. Namun kembali ke pertanyaan awal, untuk apa sih ini semua?
Dalam guyonan-guyonan minor, kami sering meledek diri sendiri dan Semarang, bahwa jikapun kota ini dihapus dalam peta,tak akan ada pengaruhnya dalam gegap gempita dunia seni di Indonesia. Sebagaimana diketahui, dalam politik representasi, yang dianggap Indonesia tuh hanya beberapa kota saja. Mereka secara sadar ataupun tak sadar merepresentasikan ‘yang Indonesia’, sementara kami yang di Semarang ini adalah konsumen isu dan wacana yang hampir selalu dari luar.






Jadi secara sinis aku kadang nganggap, Semarang ini kota cluster. Jagoan kandang, dan sering tak bersangkut paut dengan wacana besar bernama Indonesia, setidaknya dalam konteks dunia seni. Sebagai kota cluster ngapain juga sibuk dengan wacana kota lain, bahkan Indonesia, bukankah di kota ini sering timbul masalah-masalah yang harus direspons. Saatnya merespons isu kota sendiri dan tak berurusan dengan kota lain sebagaimana kota lain sebenarnya tak pernah berurusan dengan Semarang secara egaliter.
Makanya aku kadang ketawa masih ada gerakan-gerakan atas nama Indonesia di daerah-daerah yang itu-itu juga. Wilayah-wilayah yang sering menasbihkan diri sebagai pusat. Menggelikan.
Yah, itu tadi pikiran-pikiran sinis yang sering terlontar bersama teman-teman, ada positifnya juga yakni keengganan teman-teman untuk diposisikan diri sebagai konsumen wacana dari kota lain dan menjadi follower terus menerus.





‘Seni untuk Kota Lestari’ aku temukan setelah berkenalan dengan Marco Kusumawijaya. Memang idiomnya Marco namun tak sepenuhnya apa yang kami lakukan ini berdasar ide itu , aku dan beberapa teman merasa menemukan bahasa ungkap paling sederhana dari praksis yang kami lakukan bertahun-tahun. Dalam beberapa perbincanganku dengan Marco selalu ia tekankan bahwa kota-kota di Indonesia ini dibangun tanpa pengetahuan yang cukup. Tanpa pengetahuan yang cukup lalu kota dibangun secara asal, elitis dan tak pertisipatoris. Idealnya sebuah kota dibangun berdasar kebutuhan, harapan, dan pengetahuan warganya sehingga kota tak tumbuh secara ahistoris. Pembangunan non partisipatoris ini juga membuat warga enggan untuk ‘melibatkan’ diri dalam pembangunan. Kaitannya dengan isu ini, lalu di mana letak kesenian? Apakah ia hanya berdiam diri dan membangun menara gading sebagai milik kaum tertentu?
Tidak. Itu pilihanku dan teman-teman, semua bisa berkontribusi untuk menuju kota yang lebih baik, kota yang lestari, kota yang dibangun berdasar pendekatan jangka panjang dan sehat. Seringkali aku prihatin juga melihat praktik berkesenian teman-teman yang masih saja berjarak pada kotanya sendiri. Teriak melawan ketidakadilan, neolib dan isu-isu jauh lainnya tapi buta pada persoalan-persoalan di kotanya sendiri. Mereka tumbuh di awang-awang dan tak relevan juga kontekstual. Bagiku dan teman-teman, seni bisa kok memainkan peranan seperti halnya arsitektur, planologi, dan semua disiplin ilmu untuk berkontribusi pada perkembangan kota yang lebih baik. Dengan demikian kami juga menemukan iman dan alasan, untuk apa capek-capek bertahan.




Jauh dari funding, dari gegap gempita persoalan seni Indonesia, dan jauh dari sejahtera,ngapain bertahan? Banyak aku saksikan teman-teman lalu ‘menyerah’ dan dengan berbagai dalih menyatakan berhenti atau mengalihkan minatnya. Tak apa-apa sih, dan tak salah juga, tapi kalau hampir mayoritas begitu, aku pikir kok Semarang hingga 20 tahun ke depan cumak jadi penonton. Jangan lupa kota ini kekurangan orang-orang keras kepala dan sedikit gila. Apapun motifnya. Dan banyak kekurangan yang lain yang perlu dipetakan satu-satu lalu dicari solusinya. Saat ini persolan besar teman-teman seangkatanku adalah bertahan. Untuk kemudian bergerak lagi dan mencari strategi tepat. Dan tentu saja mereka butuh iman.
Seni untuk Kota Lestari, senantiasa kami gaungkan untuk mencari orang-orang atau komunitas yang seiman untuk bertahan,berstrategi, dan lantas merespons kota. Terserah dunia luar mau melihatnya sebagai apa. Kami memilih untuk kembali pada kota. Jangan lupa setelah otonomi daerah korupsi, kolusi, nepotisme, dan persoalan-persoalan lain semakin terdesentralisasi. Lalu dimana posisi seni? Tidak selamanya untuk advokasi sih, tapi langkah untuk kembali ke kota harus didorong secara terus-menerus supaya keberadaan kami tetap kontekstual dan relevan.
Aku kadang juga dikejutkan pernyataan teman-teman yang sering ingin merespons isu dari luar, tapi pada kotanya sendiri tak paham. Ah.. kasihan sekali, menyerap terlalu banyak tapi gagal membuatnya kontekstual dengan kotanya sendiri.




Pernyataan ini sempat kuuraikan saat diminta presentasi gagasan di Sanutoke, Jalan Tusam Timur Nomor 16, Banyumanik Semarang, Minggu, 12 Mei. Mas Eko Tunas secara khusus meminta saya untuk menguraikan gagasan tentang ‘Mau ke mana Arah Kesenian Semarang’. Judul yang cukup berat juga apalagi seolah-olah aku diposisikan sebagai representasi kota, alamak.
Dan kujawab, kami dan lingkaran jaringan kecil ini berlatih dan terus berlatih untuk mengorganisir diri dan mempunyai visi pada kota. Jangan lupa, Indonesia ada karena dibayangkan beberapa orang saja, Majalah Pujangga Baru yang diagung-agungkan dalam dunia sastra dan dihapalkan hampir katakanlah ratusan juta jiwa di Indonesia konon hanya diproduksi hanya 150 eksemplar. Aku masih ingat Benedict Anderson pernah mengatakan bangsa itu komunitas yang dibayangkan,dan ya, kami membayangkan kota dengan cara kami dan dan belajar membagi proyeksi itu sesuai kapasitas kami. Dan ya, aku mencari teman-teman yang seiman pada kota. Pada keadaan lebih baik dan dengan cara-cara yang masih masuk akal bagi kami. Tak mau muluk-muluk juga merubah kota dalam skala besar. Kami hanya menularkan kesadaran ini dan membangun basis nilai di antara teman-teman kenapa harus bertahan, dan kenapa harus kontekstual. Kota ini kekurangan orang-orang yang berkarakter, dan sekarang yang dibutuhkan adalah membangun basis nilai. Katakanlah disupport dana besar pun jika orang-orangnya tak siap pasti juga gagal dan hanya membuat mereka menggantungkan diri pada  tali asih. Dan itu memalukan.
Kalau Jatiwangi bisa kenapa kami nggak? Kalau Sutanto Mendut bisa kenapa kami nggak? Kalau Ujung Berung bisa kenapa kami nggak? Lagian kami rata-rata masih muda, jenjang karir masih panjang, kenapa ragu?