Jumat, 10 Juni 2011

PETIK PUITIKA#1


PETIK PUITIKA#1

para penyair yang akan tampil;
1. Devika Herfiningtyas (IKIP PGRI)
2.Niza Palevi (UNNES)

penampil yang spektakuler;
-Goge Musical
-Teatrikal; Cakra
-Selebrasi Puisi

sekilas tentang penyair;
*Devika;
anak kedua dari dua bersaudara, lahir di kendal 13 desember 1992, dan sekarang sedang kuliah di IKIP PGRI Semarang jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa semester 2
*Niza
seorang mahasiswi UNNES yang berusia 20 tahun inilahir di tengah keluarga demokratis. Demokratis disini maksud niza sebagai seorang anak tidak harus menjadi dokter atau guru seperti kebanyakan orang tua menginginkan hal itu. "Walaupun pada akhirnya sekarang saya kuliah untuk menjadi guru.." pengakuannya ya begitulah akhirnya.

*****saksikan penampilan dan cerita mereka soal puisi, cantik, pintar dan berbakat plus memiliki jiwa seni yang terus diasah. jangan sampai dilewatkan y... :`)

cp
; arif (085727472442)
vivi (081227327581)

MEMPERTEMUKAN PUISI, MENEMUKAN DIRI (DAN) PUISI

Sebuah ulasan cukup singkat mengenai puisi-puisi Devika dan Niza*

Bagian I

Aku menuliskan indahmu

Dengan tinta angan

Dan kanvas angin

Tergores rapi penuh arti

.....

(Tentangmu)

Menafsir-bacakan puisi-puisi Devika, saya dihantar menuju masa lalu yang begitu remaja. Sarat dengan kisah penyepian, mimpi, rindu, dan percintaan. Puisi-puisi Devika mencoba untuk memperkenalkan bagaimana daya pencitraan seseorang menangkap moment-moment puitik yang sering dijumpai oleh diri seusianya (seusia karyanya) dengan warna emosi serupa. Dalam hal ini, puisi-puisinya memberikan sentuhan sebagai penulis baru yang menciptakan gaya penulisan “lurus” atau mengalir sesuai dengan apa yang ia temukan saat itu. Penggalan puisi yang berjudul “Tentangmu” di atas mencitrakan bahwa si penulis ingin mengapresiasi seseorang dengan perasaan mendayu dan ada harapan yang dilesapkan dalam pemaknaan puisi tersebut. Gaya penulisannya yang melankolia kerap ditemui di puisi-puisi sebagai berikut:

Ini telapak tangan untuk kamu

Seusap cinta dan rindu menunggu mengusap

Menengadah merayu senyum

Lembut menyentuh janji

.....

(Telapak Tangan ini untuk Kamu)

Puisi tersebut menawarkan interpretasi tentang bagaimana cinta itu diolah sedemikian rupa menjadi susunan kepuitisan yang menarik. Sehingga pembaca pun, bisa dibawa untuk supaya lebih mudah memahami bagaimana cinta itu. Dengan demikian, pembaca tidak perlu bersusah untuk mendapatkan atau menemu makna atas puisi tersebut. Si penulis bisa dikatakan masih memberikan ruang ketelanjangan bagi puisinya dengan atau tanpa sadar. Keadaan demikian memicu puisi-puisi tersebut merujuk ke tema-tema monoton, seperti halnya “Sepi”:

Sepi, sunyi, dingin …

Tersudut harapan mulai padam

Dalam malam

Di lain halnya, penulis seakan mengejar usaha-usaha puitiknya untuk menemukan esensi sepi yang terbenak dalam pengalamannya. Tampak, si penulis sebenarnya tak ingin menemui kesendirian di hadapannya. Namun, realita yang ia hadapi memberikan stimulus kuat sehingga tercetak dalam puisi berjudul “Sepi” tersebut. Bahwa memang sangat benar bila dikatakan jika kemunculan suatu karya sastra tidak didasari oleh latar belakang atau ruang yang kosong. Sebab, keberadaan stimulus yang bersifat netral tersebut telah berulang kali ditafsirkan dengan berbagai sudut pandang. Kali ini, si penulis sebagai seorang penulis puisi ingin menyatakan bahwa sepi di sini sebenarnya adalah sepi. Sendiri adalah sendiri. Malam adalah malam. Bukan pagi yang sedang bersemedi.

Dalam puisi-puisinya ia tak banyak mempergunjingkan keberadaan yang seketika menyudutkan dirinya ke arah positivistik kebohongan. Di puisi di bawah ini, ia mencoba menulis dengan emosi yang masih putih bugar. Artinya, ia mencoba menghindari energi-energi negatif yang mana sarat tanggungan derita atau perjalanan diri ke ruang pesakitan. Bisa saja ini merupakan puisi rasa keterkesanan atau impresivionismenya terhadap kebaruan. Kebaruan yang dimaksud di sini adalah suatu pengalaman emosional yang didirikan oleh faktor eksternal penulis. Kedatangan pagi seolah mempertontonkan fenomena gunung es yang dicetuskan oleh Freud (seorang psikoanalisis) sebagai alam ketidaksadaran. Secara unconscious kerinduan akan langit baru telah menumpuk dan kemudian mencari waktu yang tepat untuk ditumpahkan di perjalanan kepenulisan selanjutnya. Berikut nukilan puisinya:

....

Berjalan menuju tujuan

Mengalir riuh pagi baru

Salam datang tersambut

Kepada pagi baru

....

(Teruntuk Embun Pagi)

Keberadaan emosi dalam puisi-puisinya mencerminkan bagaimana kondisi ketidaksadarannya itu bekerja. Proyeksi perasaan senyatanya kental di puisi-puisi lekas. Puisi-puisi yang bersegera supaya para mata pembaca dengan mudah menembus kabut-kabut metafora. Pembaca manapun pasti bisa dengan mudah mengaili makna untuk diucapkan ke diri masing-masing. Meski demikian, ini merupakan suatu tahapan tersendiri bagi penulis yang baru beranjak menjemukan dirinya ke jalan yang ingin ia pertemukan. Jalan yang mempunyai kebebasan arah. Tahapan ini merupakan tahapan biasa bagi para penulis awal bagaimana “menteka-tekikan” apa yang di depannya ke dalam kata. Bilamana si penulis mungkin terlalu cepat menyusun sebuah karya, itu persoalan lain. Sebab keberfungsian pengontrolan indera untuk menulis adalah hal utama yang bisa membawa diri untuk menuju tahap selanjutnya. Aspek penting yang perlu diperhatikan adalah tentang bagaimana melawan kebiasaan diri itu sendiri. Mengolahnya untuk menghasilkan kehadiran lain dan semangat lain menjadi seorang creator bukan sebagai seorang yang semata-mata ditakdirkan mati. Sehingga diri pun kehilangan diri. Puisi kehilangan puisi, yang sama halnya dengan nama pelampiasan atas ketidakpuasan atau penghindaran dari stressor.

Motif si penulis ini kemudian terlihat cukup mencuatkan persoalan kepenulisannya. Di judul puisi “Untukmu Pujangga”, terdapat semiotika kata yang dapat diinterpretasikan sebagai kesaksian si penulis terhadap dirinya:

Untukmu pujangga

Aku tak berkarya untuk alam

Aku berdiri atas nama duniawi

....

Kosa kata yang memadai dan masih tidak banyak bergerak ke persinggahan lain dalam proses kreatif gaya penciptaan puisi-puisinya mendapati keadaan istilah yang homogen. Yang kemudian dalam puisi tersebut ditarik dalam predikat kepenyairan. Sehingga kelekatan image tentang untuk siapa dan atas nama apa berkarya itu, secara tidak langsung meruwat dirinya sebagai seorang yang masih memposisikan diri dalam tingkat jangkauan dekat. Selebihnya tidak ada maksud untuk membuat puisi itu sebagai karya yang utuh dalam proses kepenyairan, namun sebagai katarsis emosional. (Dan mungkin untuk sementara waktu.) Jikalau ada stimulus yang ditemui dari pengalaman-pengalamannya itu ditangkap dengan kedangkalan persepsi maka ada kemungkinan menimbulkan respon yang akan sama. Dengan demikian gaya kepenulisan tidak mudah untuk berkembang. Oleh karena itu, perlunya penulis untuk terus berlatih dalam mengontrol kedalaman indera dalam capaian berpuisi, pun untuk menjumpai diri yang bukan bayangan di bawah lampu suatu malam sarat kegigilan.

Bagian II

Realisme sosialis antara anak dan ibu nampak menjadi taruhan di puisi-puisi Niza Pahlevi, yang mana ruang-ruang dunia itu diperlihatkan dalam puisi “Pesan Sebatang Rokok dari Bapak”:

Nak...

Sembilan bulan ibu mengandung

Sembilan bulan ibu termenung

memikirkanmu...

Taruhan itu berarti bahwa bisa saja menciptakan keberhasilan dalam mengungkap sisi kehidupan yang dimata-matai oleh ironisme. Di lain sisi, ada sisi epikurian yang mencoba untuk memberanikan diri berjalan melewati kebrutalan gelap nasib. Bahwa ia akan berhasil menemukan ketitikterangan adalah sebuah pemikiran belakangan. Penggalan puisi tersebut seolah ingin mengatakan tentang diri yang diketemukan dalam rupa tubuh ibu. Diri itu terus mencari ke mana ia mesti muncul dari persembunyiannya. Dengan kata lain, ada semacam mekanisme pembelaan diri yang dialihkan ke tubuh lain. Dalam bahasa psikoanalisis adalah displacement. Keadaan tersebut berlanjut ketika ia mencoba mendiskripsikan mengenai titik kebebasan sebagai langkah untuk menghirup nafas sepanjang-panjangnya di luas lapang. Ia sedemikian getol mengeksplorasi kemerdekaan dirinya melalui penggalan puisi yang berbunyi demikian:

...

Akulah seorang muda yang dulu meneriakkan proklamasi

dengan lantang

...

(Doa Proklamasi)

Di sini kata-kata “proklamasi” menjadi isyarat tentang bagaimana diri itu dimaknai sebagai langkah kebebasan. Si penulis mengembalikan kekinian yang ia hadapi melalui kegairahan dalam semangat pamfletisme Rendra. Selanjutnya, saya melihat proses Niza tidak berhenti atau melulu berkutat soal hal tersebut dalam menampilkan ekspresionisme menulisnya. Ia pun mulai berbicara tentang cinta yang dilesapkan sedemikian rupa:

....

oh, sayangku

indah benar pagi itu kurasa

cerah betul mentari saat itu

bahagia pula hatiku

itu yang kurasa dulu

....

(Kelopak Bunga Berwarna Abu)

Niza mungkin ingin meminimalisasi bagian “percintaan remaja”nya dalam tubuh puisi. Bisa saja sengaja, sebab ia masih belum ingin menyinggungnya atau barangkali ada semacam penghindaran pengalaman traumatik (membaca kalimat: itu yang kurasa dulu). Di kajian psikopragmatik (masalah nilai-nilai atau fungsi-fungsi sastra yang terkait dengan pembaca), kehidupan psikis seseorang akan muncuk jelas melalui karya-karyanya. Bilamana menengok puisi-puisi Niza, terdapat jarak yang dekat antara diri pribadinya dengan orang tua (bapak atu ibu) atau malah sebaliknya. Misalnya, dalam puisi “Blazer dari Ayah”:

...

blazer tua,

sepeda tua

ayah meninggalkannya untukku

...

Kata “meninggalkannya” menguraikan tentang pengalaman masa lalu, dan melalui puisi tersebut, seolah ingin memaparkan peninggalan masa lalu yang mempunyai cerita tersendiri. Kata benda “blazer” dan “sepeda” yang dikonstruksikan dengan kata “tua” sebagai bentuk pendiskripsian yang representatif yang sekaligus sebagai gambaran psikisnya terhadap kelekatan waktu. Sebab dengan menciptakan perasaan sedemikian rupa, puisi ini ikut merayakan rasa anak kepada bapaknya. Sebuah eksperimentasi yang merujuk pada pengekalan unsur moralitas bapak ke dalam diri: “jangan ragu...”

Pada badan puisi yang bertajuk ibu, Niza melakukan semacam pledoi terhadap realitas yang ia jumpai. Realitas yang sebenarnya tidak ada ibu di sana. Yang ada mungkin hanyalah “para penyanyi”. Begini bunyi penggalan puisinya:

...

namun, ibu tidak akan sama dengan

para penyanyi yang melenggak-lenggokkan

tubuhnya untuk para serdadu nafsu

...

(Dendang Nada)

Peradaban yang sedang melanda proses kreatif si penulis adalah peradaban attachment terhadap orang-orang terdekatnya sekaligus jauh. Peradaban ini muncul kental dengan landasan kerinduan yang tertumpuk di alam prasadar si penulis. Hal tersebut memungkinkan adanya tahapan regresi (kembali ke tahapan masa lalu, seketika masa itu dirasa “membebaskan”) dalam pola pikir penulis, seperti pada nukilan puisi berikut:

...

anak kecil dengan kaki kecil

berlari menancapkan

ranting-ranting kecil

sebagai tanda

tanah milik bapak

(Kumbang Menyeringai)

Maka, sejalan dengan Richard Hurd (seorang psikopragmatis) bahwa di dalam karya sastra yang tampak terdapat dugaan-dugaan seperti adanya alasan lahan pelarian jiwa sehingga pengarang maupun pembaca merasa bebas, tanpa ada tekanan setelah membaca. Kemudian, adanya karya sastra yang menahbiskan sebagai obat. Artinya , setelah menulis dan atau membaca karya sastra terjadi relaksasi secara fisiologis maupun psikologis. Dan karya sastra yang diam-diam menjadi teror kejiwaan yang menggerakkan emosi, keinginan, dan harapan. Ketiga dugaan ini terasa ketika saya mengurut mata, membaca satu per satu karyanya. Setidaknya, dugaan ini memberikan kritik sastra secara psikologis. Untuk kembali mempertanyakan--memurnikan, sudah yakinkah Anda mempertemukan puisi dengan diri Anda dan menemukan diri untuk menulis puisi?

Semarang, 2011

* Esai ini dibuat oleh Ganz P. (A.Ganjar Sudibyo – seorang mahasiswa psikologi dan pengurus komunitas sastra LACIKATA Semarang) untuk keperluan acara Petik Puitika yang diadakan oleh LACIKATA pada tanggal 19 Juni 2011.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar