Rabu, 30 Mei 2012

Festival Teater Pelajar Nasional IKIP PGRI 2012





Menepis Anggapan Semarang Jadi Kuburan Seni
Wikha Setiawan


Istilah Semarang menjadi kuburan seni sepertinya tidak berlaku bagi generasi muda pelaku kesenian di Kota Linpia. Teater Gema IKIP PGRI Semarang melalui pagelaran Festival Teater Pelajar Nasional 2012 yang diramaikan oleh 21 peserta dari 11 provinsi perlahan mengikis anggapan tersebut.
Antusias menyambut event tahunan ini tidak hanya datang dari para peserta saja. Terbukti pada pembukaan yang digelar di halaman Gedung Pusat IKIP PGRI , Selasa (21/5) malam lalu, suasana begitu meriah dipenuhi para tamu undangan dan pegiat seni Semarang dan sekitarnya.
Disajikan penampilan dari berbagai genre kesenian, diantaranya musikalisasi puisi bercorak rock n roll berbalut etnik jawa oleh kelompok Gamelan Funky; performance art berjudul Gadis Sarung dari Adhitia Armitrianto dan Suprek. Tak kalah menarik, Teater Angin SMAN 1 Denpasar, yang menampilkan musikalisasi puisi berbahasa Bali dihujani tepuk tangan para penonton.
Selanjutnya, pembukaan festival ditandai dengan pelepasan burung pipit oleh Koordinator Kopertis Wilayah VI, Prof Mustafid didampingi oleh Rektor IKIP PGRI Semarang, Muhdi.


“Tahun ini peserta yang ikut festival datang ada 21 grup dari 11 provinsi yang ada di Indonesia. Antara lain dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Bali, Manado, Nusatenggara, Gorontalo, dan beberapa di Sumatera," kata Muhdi..

Ely Amaliyah, Ketua Panitia acara menjelaskan, di tahun ganjil, festival diselenggarakan untuk para pelajar SMA dan atau sederajat di tingkat Provinsi Jawa Tengah. Di tahun genap, seperti pada penyelenggaraan ini, festival drama di selenggarakan untuk pelajar SMA dan atau sederajat di tingkat nasional.
“Teater Gema sudah menyelenggarakan festival teater tingkat pelajar ini sudah yang ke 13 kalinya. Kami berharap panitia bisa maksimal selakuk pelaksana, begitu juga dengan peserta yang semakin menunjukkan peningkatan kualitas dalam menyuguhkan pertunjukan,” paparnya.
Di sisi kanan depan panggung, terlihat beberapa seniman ternama. Yakni, pendiri Teater Koma, N Riantiarno, penulis kenamaan, Afrizal Malna, dan pegiat teater asal Tegal, Apito Lahire. Ketiganya didaulat sebagai dewan juri pada festival yang memerebutkan dengan total hadiah belasan juta rupiah.
 Usai acara pembukaan, N Riantiarno menyinggung kondisi Semarang, yang dianggapnya sebagai salah satu kota besar yang belum tergarap secara baik di ranah kebudayaan dan keseniannya.


“Saya ingin berkata jujur saja, kalau Semarang memang cukup memprihatinkan. Komunikasi tidak terjaga dengan baik antargenerasi, sehingga terkesan berjalan sendiri-sendiri. Menurut saya perlu adanya kepedulian dari seniman yang tua untuk memperhatikan generasi di bawahnya,” ujarnya.
Apalagi bicara fasilitas, sambungnya, Indonesia termasuk Semarang belum memiliki gedung pertunjukan yang representatif.



“Susahnya lagi kalau kita mau pentas tapi gedungnya dibuat acara resepsi. Kasihan teman-teman yang sudah proses akhirnya harus sibuk memikikan solusi lain. Entah menunda, pindah tempat, atau bahkan gagal pentas,” imbuh N Riantiarno sambil tertawa kecil.
Nemun demikian, ia sangat apresitif terhadap Teater Gema yang sudah menyelenggarakan acara tersebut meskipun sebenarnya kesenian teater tidak menjanjikan apa-apa dalam persoalan materi. Setidaknya, event tersebut bisa menangkis anggapan negatif terhadap Kota Semarang dalam dunia kesenian. (dari sindo)


3 komentar:

  1. lha tulisannya mas adin, mana? heehee

    BalasHapus
  2. bentarrr pelaaannn he udah kok ni openk dah nulis, aku nulis profil kalian juga santai tenang saaja nunggu giliran hehehehhe

    BalasHapus