Sabtu, 02 Juli 2011

Apa yang Tersisa dari Fotografi?*


Oleh: Adin**

Di era ketika semua orang mempunyai kesempatan untuk memiliki kamera dengan mudah, baik itu kamera digital atau analog terlebih lagi ketika dengan mudah handphone keluaran terbaru sering menambahkan fitur kamera, maka apa yang tersisa dari dunia fotografi yang dulu pernah diagung-agungkan tidak hanya karena harganya mahal namun juga teknologinya terbatas orang yang menguasai? Apa yang membuat para fotografer ini bangga ketika semua kemewahan itu sekarang telah menjadi gaya hidup anak-anak muda zaman sekarang. Tidak hanya itu kamera SLR atau DSLR yang dulunya tidak banyak yang punya sekarang marak sekali terlihat dimana-mana. Kamera bagus itu yang dulu sering identik dengan fotografer professional sekarang tidak jauh amat dengan handphone keluaran terbaru. Kamera telah masuk dalam kategori gadget yang mempermudah mereka dalam pergaulan anak-anak gaul dan membuat mereka merasa diakui. Kamera dengan harga jutaan rupiah itu menjelma tren mode. Sayangnya perubahan radikal fungsi kamera ini tidak diimbangi perubahan radikal mereka dalam cara memandang sesuatu. Ia hanya menjadi gadget dan telah tercerabut dari fungsi awalnya untuk mencetak gambar-gambar terbaik dan, kalau menurut Susan Sontag, memiliki dimensi etis. Kamera-kamera ini tidak lebih dari handphone blackbery yang fungsi awalnya untuk memudahkan orang bekerja karena membutuhkan koneksi internet secara cepat. Ya, blackberry memang masih digunakan anak-anak muda ini untuk berinternet namun kebanyakan, berdasar asumsi pribadi dan pengalaman mengamati teman-teman yang memiliki blackberry, dipergunakan untuk mengakses facebook dan twitter. Demikian pula kamera-kamera mahal yang seharusnya menangkap citra-citra yang menggetarkan ini telah mengalami pendangkalan. Saya sering melihat anak-anak muda memakai kamera bagus ini hanya untuk memotret dirinya sendiri persis seperti ketika kita menggunakan kamera handphone.
Salahkah? Kalau berbicara soal salah atau benar tentu tidak akan ada habisnya. Toh sah-sah saja karena mereka membeli alat-alat itu dengan uangnya sendiri dan tentu saja mereka bebas memakai kamera yang telah dibeli untuk hal-hal semau mereka.


Kalau sudah begitu lantas apa yang ditawarkan oleh anak-anak muda yang menamakan dirinya Nirkonsep ini memamerkan citraan fotografis mereka di dunia banal yang semuanya bisa menjadi fotografer sesuai dengan kapasitasnya masing-masing? ‘Break The Wall (5 dimensions)’ , begitulah tajuk pameran yang mereka gelar. ‘Break the wall 5 dimensions’ berdasar pemahaman mereka hendak menembus jalan yang jarang sekali dilalui para fotografer di Semarang. Anak-anak muda ini sepertinya ingin menegaskan diri sebagai kelompok yang menggunakan kamera tidak hanya sebagai perekam objek tetapi lebih dari itu kamera adalah cara melihat (way of seeing) sekaligus representasi ideologis mereka. Bagi mereka kamera tidak lebih dari alat dan semestinya sebagai alat yang semua orang bebas menggunakannya tentu saja tidak ada nilai lebih jika tidak ada gagasan yang ditawarkan dari citraan-citraan yan dihasilkannya.

Nirkonsep = tanpa konsep (?)

Pada pameran kali ini Nirkonsep menyertakan lima orang yakni Helmy Y O Gaff, Bro Say Me, Bagas Bato, Septian Yudha, dan Pristyo Hari yang akan mendedahkan kerangka berpikir mereka dalam menyikapi fenomena ini. ‘Break the wall 5 Dimensions’ sebagai tema utama digunakan sebagai desain utama sekaligus batasan-batasan yang akan mereka aplikasikan dalam memperuncing gagasan sekaligus eksekusi teknis karya mereka. Tema utama mereka sendiri dipicu karena ketidakpuasan mereka atas praktik fotografi (terutama di Semarang) yang selalu berkutat pada bentuk, gambar-gambar bagus, dan persoalan teknis lainnya sedangkan eksplorasi konseptual jarang sekali tersentuh. Mau tidak mau pameran ini menjadi kritik bagi kecenderungan umum dalam praktik fotografi yang ada di Semarang. Tentu saja ini merupakan kecemasan tersendiri mereka mengingat tidak banyak yang bisa ditawarkan dalam praktik arus utama fotografi. Tentu kita ingat bagaimana kredo awal Nam Jun Paik, pionir video art, yang meyatakan bahwa televisi telah menjejali kita dengan banyak hal dan saatnya merebutnya kembali. Lalu lewat video artlah Nam Jun Paik merealisasikan gagasannya.
Pada karya-karya Helmy misalnya hampir semua visualisasi yang ditawarkan adalah hal-hal yang tidak biasa. Ada lima karya yang ditampilkan dan kesemuanya mengajak penonton memainkan inajinasinya untuk bersepakat atau tidak bersepakat dengan judul yang disematkan Helmy pada karyanya. Bagaimanapun untuk mengadapi citraan yang abstrak dan kadang cenderung tidak jelas, judul menjadi pagar bagi para jamaat penonton untk menafsirkan. Ia menjadi jalan masuk dan muasal definisi namun demikian bukan kesepakatan imajinatif yang diharapkan Helmy melainkan permainan-permainan interpretatif. Penonton sah dan boleh-boleh saja bersepakat atau bahkan menegasi citraan visual itu lantas memberinya judul lain. Jadi bisa dibilang citraan Helmy adalah teks terbuka yang memungkinkan pembacanya mengamini, tersesat atau bahkan menciptakan dunia baru.


Memang benar setiap teks selalu terbuka namun yang menjadi lain dalam karya Helmy keterbukaan ini menjadi ideologi dan tawaran perspektif sedari awal. Jadi dari awal memang diharapkan penonton akan membuka Pandora itu dan bermain-main dengan penyakit sekaligus harapan yang disimpannnya.
Lain halnya Tyo yang menggunakan teknik multiple exposure, dia seolah memanipulasi karyanya sehingga menghasilkan citraan yang aneh. Gambar-gambar itu seolah mahluk gaib dan seperti yang telah dia jelaskan sebenarnya dia sedang bermain-main dengan bentuk. Baik bentuk riil maupun imajinatif. Sanggupkan kamera memuaskan dahaganya akan bentuk? Dan jadilah ketiga karyanya menampilkan potongan orang yang terpisah. Teror bentuk yang tak lazim ini mengingatkan saya pada fenomena penampakan atau hantu pada tayangan televisi swasta yang belakangan marak lagi. Sebagaimana selama ini orang-orang lebih merasa nyaman dengan bentuk-bentuk yang sudah dikenali. Yang tidak dikenali dalam kelaziman adalah anomali dan untuk itu menyimpang dan sesegara mungkin dijinakkan dalam ranah pengetahuan kita. Sodoron bentuk Tyo barangkali juga menjadi anomali bagi para fotografer yang terbiasa memencet tuts-tuts kameranya pada tubuh yang gemulai dan view-view indah dan melenakan. Seberapa jauh Tyo akan memperkenalkan anomali ini pada khalayak sehingga kelak menjadi natural? Tentu tidak adil jika menuntut banyak pada pameran pertama dia. Dan terus terang saya menunggu teror bentuk lain yang kelak dia ajukan dalam pameran lainnya.

Karya lebih sederhana lagi ditunjukkan Bro Say Me yang menunjukkan foto lengkap keluarga berdasarkan identifikasi terhadap benda-benda yang sering dipakai keluarga itu. Ketiganya merupakan alas kaki. Alas kaki ini menjadi penanda bagi kehadiran kelamin dan status sosial anggota keluarga itu, yakni bapak, ibu dan anak. Semua foto disajikan secara hitam putih. Hal yang menarik mengingat kebanyakan potret keluarga ditandai dengan foto lengkap sekeluarga beserta atribut kebanggan mereka. Namun dalam foto ini salah satu atribut ini (alas kaki) menjadi penanda identitas dan kehadiran. Kalau dalam istilah bahasanya totem pro parte atau pars pro toto, keseluruhan mewakili sebagian atau sebagian mewakili keseluruhan. Alas kaki adalah keseluruhan representasi keluarga. Tetapi ada yang agak janggal dalam hal ini yakni pengidentifikasian anak sebagai sandal, bapak sebagai sepatu dan ibu sebagai sepatu cewek. Ketiga-tiganya saling tidak berakitan antara satu sama lain kecuali karena sama-sama alas kaki. Maksudnya andai foto alas kaki ibu sangat feminis mengapa suaminya tidak kontras maskulin, misalnya. Penggunaan ikon sepatu lars atau pantofel barangkali akan lebih mengena untuk merepresentasikan sang bapak.
Untuk karya-karya Bagas Bato terus terang saya agak kesulitan mencari benang merah antar satu karya dengan karya yang lain. Ketiganya mungkin adalah limpahan pengalaman pribadinya. Karya itu mengada karena diambil dengan kamera bekas dan dicuci cetak seperti kamera yang menggunakan roll film. Bato seperti mau bercerita begitu saja dan membagi momen-momen keterkejutan ketika dia mengambil gambar dan menyerahkan pada tukang cetak foto sambil harap-harap cemas foto mana yang sesuai dengan harapannya. Dan karenanya pita gulungan roll ini hanya berlaku sekali maka tidak ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan begitu sebalikyna tidak ada kesempatan untuk menjadi bagus lagi. Semuanya serba mengejutkan. Seperti kado yang diberikan pada kita secara rahasia dan kita hanya melihat hasil akhirnya tanpa bisa mempengaruhi mekanisme di dalamnya.

Sebetulnya tidak ada yang mengejutkan juga karya Septian Yudha yang berjudul ‘Birokrasi Kompleks’. Sepintas karya-karya ini manis dan segar tapi terus terang saya tidak bisa mengerem pikiran saya untuk tidak mengalami de javu. Saya seperti pernah melihat karya ini tapi dimana entah. Bukan berarti karya ini tidak orisinil namun bentukan-bentukan semacam ini saya pikir banyak dijumpai namun dalam bentuk yang bervariasi. Sekalipun saya mendukung mereka namun tetap saja mesti bersikap kritis jika memang ada hal-hal yang sepatutnya kurang cocok di hati saya. Bagaimanapun saya percaya menjadi baik adalah proses, yang perlu dilakukan kemudian adalah memperbanyak kesempatan dan memberikan kepercayaan pada mereka untuk terus belajar dan untuk terus meningkatkan standar estetis serta kecerdasan intelektualitas mereka. Di sinilah posisi Grobak A(r)t Kos yakni menjadi wadah bagi teman-teman yang masih muda, bersemangat, mau belajar dan terus bergerak ke arah lebih baik. Jika banyak pihak menuntut mereka tampil terbaik tanpa memikirkan mekanisme dan metode yang pas tentu tidak akan adil di tengah carut-marutnya kondisi infrastruktur kesenian di kota ini. Hal ini tak ubahnya standarisasi UAN yang kemudian diterapkan di daerah-daerah yang infrastrukturnya jelek. Tentu jangan salahkan mereka jika tidak banyak yang lulus, beberapa kemudian meresponsnya dengan cara ekstrim: trauma dan bunuh diri.
Setelah memperhatikan karya-karya mereka layakkah gagasan-gagasan yang dieksekusi dalam karya mereka layak tidak berkaitan dengan hal-hal yang tanpa konsep sama sekali? Atau barangkali mereka hanya bermain-main dalam ambiguitas wacana? Entahlah.



Demikian pengantar singkat pameran ‘Break the Wall 5 Dimensions’ dan sekali lagi saya tegaskan bahwa teknologi adalah alat, jika kemudian alat itu jatuh dalam wacana pasar (ekonomi) saatnya memberi counter issues melalui pemanfaatan terhadap teknologi itu sendiri. Demikian juga foto, jika memang arus utama yang digugat teman-teman Nirkonsep ini adalah fotografi ‘salon’ tentu saja mereka harus menampilkan hal-hal di luar arus itu. Apakah tawaran yang mereka ajukan cukup masuk akal dan menyita mata kita serta sejenak membuat kita berpaling? Mari kita lihat sejauh apa mata kita tergoda dengan citraan-citraan yang mereka tampilkan dalam pameran yang sederhana ini.

* esai ini merupakan pengantar singkat pameran fotografi ‘Break d Wall (5 dimension) yang diselenggarakan Nirkonsep bekerjasama dengan Hysteria
**penulis merupakan direktur Hysteria

Tidak ada komentar:

Posting Komentar