Kamis, 14 November 2019

Kohesi Sosial dan Perlunya Perubahan Paradigma Global



Adin Hysteria*

Bagaimana keteraturan dipelihara dalam kondisi kontestasi lahan dan berbagai kesempatan yang kian sengit? Problem of order telah menjadi perhatian banyak ilmuwan sosial sejak dulu. Kita ingat industrialisasi di Inggris abad 18 membuat banyak orang memikir ulang apa kondisi alami bagi manusia dan masyarakat dan bagaimana disruptivitas terjadi bisa diminimalisir dampak buruknya. Renggangnya kohesifitas masyarakat akibat perubahan kebudayaan ratusan tahun lalu terjadi dan saat ini kita menghadapinya lagi seiring dengan berubahnya polarisasi kekuatan-kekuatan global, cara pandang kita terhadap alam, dan kelangsungan spesies manusia itu sendiri. Debat itulah yang mengantar saya untuk mengikuti Global Solutions Summit (GSS) dan Young Global Changers (YGC) di Berlin beberapa waktu lalu dengan difasilitasi oleh Frederich Ebert Stiftung (FES) Indonesia. Tema ini tak jauh dari penelitian saya di Kampung Bustaman, Semarang yang mempunyai peristiwa menarik. Luasannya yang tidak lebih dari 0,5 hektar ini berdasar sensus tahun 2015 dihuni 130an jiwa yang menariknya tiap tahun mengalami kenaikan jumlah karena angka kelahiran maupun para pendatang oleh hubungan pekerjaan maupun perkawinan yang ditarik ke dalam, tinggal di kampung. Beberapa warga yang telah pindahpun di masa tua memutuskan untuk memiliki sepetak tanah jika ada warga yang lain menjualnya. Kampung Bustaman telah menjadi magnet sendiri bagi warga dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Akan halnya Eropa yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi magnet yang kuat bagi para imigran timur tengah atau negara-negara terdekat. Trend ini sejalan dengan meningkatnya minat urbanisasi di berbagai kota di belahan dunia lain karena janji keterjaminan pemenuhan kebutuhan ekonomi dan berbagai pemenuhan hasrat menubuh di kota itu sendiri.



Sisi lainnya, pertambahan populasi dan migrasi ini membuat daya lingkungan terancam dan juga memaksa populasi yang tinggal di dalamnya beradaptasi dan menegosiasikan nilai-nilai baru. Percobaan tikus Calhoun beberapa dekade lalu memberikan gambaran mimpi buruk terhadap meledaknya populasi yang berakhir dengan kanibalisme pada tikus. Tak heran ambisi Thanos untuk menghapus setengah populasi mahluk hidup dalam semesta Marvel beresonansi dengan gagasan Malthusian mengenai kontrol populasi untuk mencegah chaos. Isu ini juga telah lama menjadi perhatian China yang melakukan kontrol populasi secara ketat dan terbukti dalam beberapa poin sukses juga mempertahankan order di kawasan-kawasan apartemen super sempit dan bercorak vertikal. Namun, bagaimanakah hal itu bisa diorganisir? Tegangan apa yang muncul dan bagaimana cara-cara meminimalisir konflik? Berkaca pada kasus Kampung Bustaman, sesungguhnya masyarakat itu selalu terfragmentasi sekaligus mempunyai daya rekat yang bisa melonggar, mengetat dan tak jarang relasi ini menimbulkan konflik. Sebagai kampung yang mayoritas etnis jawa dan beragama Islam tentu basis nilainya hampir sama. Namun bukan berarti kesamaan ini bersifat stagnan, tak jarang karena konflik kepentingan misalnya perebutan suara perolehan pemilu, kecemburuan sosial akibat kesenjangan ekonomi juga mengemuka dan tentu saja kontestasi lahan yang sempit sementara manusia berkembang biak muncul laten. Tegangan-tegangan itu bisa diminimalisir dan dikelola misalnya karena hubungan kekerabatan, dalam kasus Bustaman hampir penduduk lamanya bersaudara sama lain karena ikatan perkawinan dan semacamnya. Tapi itu bukan jaminan juga, justru karena kekerabatan kadang kampung mengalami stagnasi karena rasa ewuh pekewuh. Saya membayangkan jika konsep kekerabatan dalam masyarakat yang kompleks tidak hanya berlangsung melalui perkawinan tetapi kesamaan visi mengenai masa depan manusia tentu akan lebih mudah mencapai tujuan bersama meski itu tidak pernah mudah. Terlebih penting adalah peranan para aktor yang aktif di dalam masyarakat, saya rasa hal ini berlaku tidak hanya di Bustaman maupun di tingkat makro sekalipun mengingat baik kesamaan maupun perbedaan itu bisa jadi berkah sekaligus bencana tergantung bagaimana narasi ini digunakan. Tak heran studi-studi antropologi dalam beberapa tahun belakangan fokus pada peranan aktor tidak hanya aktor manusia tetapi juga non human. Keberadaan Kampung Bustaman tentu tak bisa dipisahkan dari perdagangan kambing yang jejaringnya mencakup beberapa kota dan dagingnya didistribusikan di Semarang. Kambing ini, dalam beberapa hal, menjadi lem sosial masyarakat untuk memproduksi dan mereproduksi ikatan-ikatan sosial yang bertahun ada. Demikian juga dalamkonteks global, banyak narasi yang bisa digunakan untuk menjadi perekat sosial namun sekali lagi peranan aktor menjadi sangat signifikan. Dalam studi-sttudi antropocene, sekarang banyak dihitung bagaimana non human actor, misalnya akibat kebocoran nuklir dan aktivitas pertambangan telah mengubah struktur geologi bumi kita. Pekerjaan rumahnya kemudian adalah bagaimana memaksimalkan narasi ini dan menjadi landasan kebijakan lebih baik ke depan.




Bersamaan dengan isu kohesi sosial, dibahas pula perlunya mengubah paradigma kapitalisme yang hari ini dianggap menjadi penyumbang terbesar isu ketidakadilan. Tentu saja masih banyak isu lain dalam GSS dan YGC ini namun saya memberikan perhatian lebih pada kedua isu ini saja. Bahasan mengenai bagaimana kita perlu mengubah persepsi pada dunia bukanlah hal baru. Berbagai pendekatan termasuk agenda-agenda utama jaringan global seperti PBB, World Bank, G20 dan banyak lagi yang lain berusaha memberikan wacana-wacana alternatif demi kehidupan lebih baik. Namun entah mengapa banyak niat-niat baik itu berakhir dengan penerapan kebijakan tidak tepat. Di hadapan semua upaya yang pernah dibangun kadang saya merasa kecil apa yang bisa kita sumbangkan untuk dunia di tengah kontestasi kekuatan-kekuatan global. Menghadapi polarisasi kekuatan global yang memaksa kita berkompetisi dan saling mendominasi tentu kita perlu sebuah narasi baru misalnya. Perubahan iklim pada satu kasus membuka mata kita bahwa ini adalah persoalan kita bersama. Sudut pandang antropomorfisme yang memusatkan manusia sebagai pewaris sah dunia telah dikritik sejak lama berbarengan dengan kritik terhadap modernisme yang menempatkan rasionalitas manusia adalah segalanya. Kerusakan lingkungan yang terjadi sudah jamak kita ketahui adalah akibat dari keserakahan manusia. Laporan Credit Suisse yang dipublikasikan The Guardian, Minggu (17/11/2017) menyatakan bahwa 1% populasi manusia menguasai 90-90 % dari total kekayaan global, bisa dikatakan bahwa 1% inilah yang memegang kontrol dan relevan dengan Gandhi  “Bumi menyediakan cukup kebutuhan bagi seluruh manusia, tetapi tidak pernah cukup untuk memenuhi keserakahan manusia” . Masalahnya tidak banyak yang kita ketahui tentang 1% populasi ini sementara studi-studi lebih banyak meneliti tentang orang-orang miskin dan termarjinalisasi. Rasanya jadi percuma jika yang 1% dan sangat powerfull ini semua serakah tentu tidak ada tempat bagi yang lain jika kita membayangkan distribusi kesejahteraan yang menjadi akar segala alienasi dan perasaan terdisrupsi ini.

Kritik terhadap kapitalisme di beberapa kesempatan dalam forum yang diselenggarakan 18-19 Maret 2019 ini banyak menyinggung peranan invisible hand yang akan melakukan koreksi terhadap penyimpangan pasar yang ujung-ujungnya tidak hanya eksploitasi pada manusia tetapi juga alam. Adam Smith adalah produk dari jamannya yang barangkali relevan saat gagasan dalam The Wealth of Nation dicetuskan namun ketika kekuatan pasar lebih dominan dan negara-negara menjadi kecil karenanya lantas  siapa dan bagaimanakah mekanisme ini bekerja toh nyatanya ketimpangan sosial masih lumrah terjadi dan disparitasnya meninggi. Pada kasus ini sepertinya kita semua sepakat perlunya mengubah tidak hanya cara pandang tetapi juga metodologi karena terbukti cara-cara lama tidak berjalan. Pada kasus pemanasan global misalnya, upaya untuk menciptakan narasi bersama ini dinodai oleh skema jual beli karbon disusul mundurnya Amerika dalam Paris Agreement yang membuat banyak negara akhirnya skeptis terhadap persoalan bersama ini. Belum lagi berbagai program bantuan untuk negara-negara berkembang yang seringkali menjadi urusan bisnis semata karena urusan jual beli teknologi yang konon akan mencegah negara berkembang dari kiamat kecil dampak perubahan iklim, misalnya skema reklamasi dan yang semacam itu. Hal-hal inilah yang membuat efek ketidakpercayaan mewabah di mana-mana karena ketimpangan komunikasi. Dengan seluruh karut marut ini di manakah posisi kita sebagai individu?

Memang benar perubahan tidak bisa dilakukan sendiri tetapi saya percaya kekuatan individu bisa menjadi pemantiknya. Akan halnya Greta Thunberg, pedagang sayur Tunisia dan banyak kasus yang lain membuat agensi perorangan bisa memicu perubahan yang lain. Dan memang benar juga bahwasanya peranan komunitas menjadi penting tetapi komunitas yang seperti apa? Kelompok teroris juga merupakan komunitas jika hanya mengandaikan berdayanya kelompok-kelompok. Nilai yang berusaha ditanamkan melalui Sustainable Development Goals adalah salah satu yang perlu ada dalam komunitas dengan batas-batas tertentu jika sekiranya perlu bisa disesuaikan dalam konteks lokal. Namun spirit kelestarian hidup bersama saya rasa bisa menjadi nilai utama untuk mereduksi berbagai tantangan global yang hari ini kita hadapi yang dampaknya bisa kita rasakan di ranah paling privat sekalipun.



Perjalanan singkat di Berlin dan bertemu hampir 90 perwakilan dari berbagai negara ini menyadarkan saya bahwa apa yang saya hadapi di kampung mempunyai resonansinya di kancah global. Berbagai disrupsi, menguatnya  politik identitas, perubahan polariasi global, dan berbagai isu lain hari ini muncul dalam waktu yang hampir bersamaan. Pada kasus Kampung Bustaman, menguatnya politik identitas juga dipicu merasa terancamnya mereka oleh pembangunan yang massif dan menempatkan warga sebagai objek semata. Perasaan terpinggir ini kadang menimbulkan sentimen perlawanan dan solidaritas dengan mengadopsi simbol-simbol yang paling primordial. Memang keadaannya tidaklah segawat itu tapi bukan tidak mungkin bahaya laten ini bisa dipantik juga kondisi sosio politiknya mendukung. Frasa ini rasanya juga tidak asing bukan sikap protektif Trump misalnya dan juga kampanye sayap kanan mendapat tempat di mana-mana. Persoalan demi persoalan ini tentu tak jarang membuat kita frustasi sebagai individu. Namun demi melihat wajah-wajah muda dari berbagai dunia yang dengan antusias membicarakan hal ini membuat saya semakin bersemangat bahwa ada yang masih bisa kita lakukan meski kecil dan semoga bisa memberi inspirasi atau bergulir menjadi bola salju.

*penulis adalah peserta Young Global Changer dan Global Solution Summit, sehari-hari mengajar antropologi di FIB Undip dan CoInitiator Kolektif Hysteria Semarang



Tidak ada komentar:

Posting Komentar